Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1 SMKN 2 Pati Ngarpani mengungkapkan, sekitar 300 siswa mengikuti ujian ini. Baik dari siswa SMKN 2 Pati maupun SMK lainnya.

”Sekolah kami telah memiliki lisensi ini, jadi dapat menyelenggarakan sendiri uji kompetensi ini sendiri,” papar Ngarpani kepada Jawa Pos Radar Kudus.

 Uji kompetensi yang dilakukan, yaitu skema tune up konvensional dan juga injeksi. Ada enam unit mobil yang digunakan untuk uji kompetensi. Tiga mobil konvensional dan tiga mobil injeksi.

Uji kompetensi ini, lanjut Ngarpani, merupakan bagian dari instruksi presiden. Ini tertuang dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2016. Di dalamnya berisi tentang mempercepat sertifikasi calon tenaga kerja.

”Bila lulus uji kompetensi yang berstandar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dapat diterima di semua negara Asia Tenggara. Sebab standarnya sudah sama,” kata Ngarpani.

Lanjut Ngarpani, dengan adanya uji kompetensi ini memang dalam rangka menyambut era global tenaga kerja. Yakni era Masyarakat Pasar Bebas Atau Ekonomi Asean (MEA). Diharapkan setelah lulus bisa bersaing dengan kompetensi global.

Sementara itu, untuk lulus uji kompetensi, para peserta mesti mendapat nilai sempurna. ”Ada banyak item. Misalnya di TKR tune up injeksi itu ada beberapa item. Satu saja item tak kompeten, maka tidak mendapatkan sertifikat BNSP,” papar Ngarpani.

Ia mengatakan ada sekitar 65 persen peserta dianggap kompeten. Namun, hasilnya tak dapat diketahui saat itu juga. Sebab ada analisa lanjutan untuk menentukan kompetensi,” jelasnya.

(ks/aua/him/top/JPR)