Selain menjadi mahasiswa tingkat akhir Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dia juga sibuk memproduksi film bersama rekan-rekan sekampusnya.

Jika pulang kampung ke Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, remaja yang akrab disapa Adit ini jarang di rumah. Itu karena selama di rumah, dia sering menerima job sebagai dalang dan pengisi pertunjukan teater.

Di kalangan seniman Dewan Kesenian Tuban (DKT), Adit merupakan sosok yang multilalenta. Selain mendalang, dia aktif di pertunjukan teater, seni musik, film maker, hingga ketua Pokdarwis di desanya.

‘’Menurut saya seni itu saling berhubungan satu sama lain,’’ tutur dia ketika dihubungi Jawa Pos Radar Tuban via ponselnya. 

Seni tradisional bukan hal baru dalam kehidupan alumni SMAN 1 Singgahan ini. Sejak kecil, dia akrab dengan dunia pewayangan. Maklum, tetangga rumahnya, Mbah Sudiro merupakan dalang senior di kecamatan setempat.

Dari pewayangan tersebut, Adit mulai mengenal seni musik dan tari yang merupakan satu kesatuan pertunjukan tersebut. ‘’Kenal wayang sejak usia dua tahun, tapi baru aktif mulai latihan wayang pas remaja ikut sanggar di Tuban dan Solo,’’ tutur dia. 

Sementara untuk dunia perfilman, Adit baru menerjuninya ketika kuliah. Mulanya, pemuda ini masuk program studi televisi dan film jurusan seni media rekam Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Ketika itu, film yang dibuat Adit hanya untuk memenuhi tugas kuliah. Setelah membuat beberapa film, dia mulai tertarik untuk totalitas di dalamnya.

Kini, lebih dari 30 film sudah dibuatnya. Baik film pendek, film layanan masyarakat, hingga film dengan durasi panjang. ‘’Selain aktif di kompetisi perfilman, tim saya juga kerap dibayar untuk membuat film iklan layanan masyarakat,’’ kata dia. 

Salah satu prestasi terbarunya adalah sutradara terbaik Festival Pertunjukan Rakyat PKIM IX Jawa Timur 2017. Untuk film, sudah tak terhitung berapa karya Adit bersama teman-temannya yang mendapat juara festival dan kompetisi.

Antara lain juara Film Festival Gandifa dan runner up film pendek di Direktorat Jenderal Pajak RI. ‘’Film saya sering angkat ide tentang kehidupan sosial, masyarakat, dan budaya,’’ ujar pemuda kelahiran 12 April 1994 itu.

Awal menerjuni dunia film, Adit berperan sebagai pemain. Itu tak lepas dari latar belakangnya yang lama menjadi pemain teater sekolah dan desanya.

Lama menerjuni dunia akting, membuatnya kian paham tentang dunia pertunjukan. Adit pun memutuskan terjun menjadi sutradara. Sejumlah karya film yang dihasilkan antara lain berjudul Wohing Pakarti, Ambigu, dan Anisa.

‘’Kedua orang tua bukan orang seni, tapi seni sudah mengisi separo jiwa saya,’’ tutur pria bertubuh tambun itu.

(bj/yud/ds/bet/dka/JPR)

Source link