BERTAHAN: Santri Ponpes Tankila membersihkan area belakang masjid yang dibangun sejak 1878 lalu.
(REKIAN – JawaPos.com/RadarKediri)

Ponpes Bahrul Hasan Tankila atau lebih dikenal dengan Ponpes Tankil  jadi saksi syiar Islam di tepi sungai Brantas era 1800-an silam. Tak sekadar mengajarkan agama, para santri di sana juga diajari ilmu bela diri untuk melawan perampok yang kerap menjarah pedagang di sungai Brantas.  

Kondisi sungai Brantas yang sering jadi sasaran jarahan perampok disikapi secara khusus oleh para kiai pada tahun 1870 lalu. Yaitu, dengan mengirim santri dari Kediri ke sejumlah daerah yang sering terjadi kasus perampokan.

Salah satu daerah yang dianggap rawan adalah di tepi sungai Brantas di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. Para santri pun ditugaskan untuk menumpas kejahatan yang sering terjadi di sana.

Adalah Hasan Mi’raj dan tiga santri lain yang ditugaskan ke Tanjungtani, Prambon. Selain menumpas kejahatan, Hasan juga ditugaskan untuk berdakwah di tepi sungai Brantas.

Setelah melihat kondisi desa, Hasan dan teman-temannya mendapatkan lahan kosong yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari sungai Brantas. Di lahan itu, Kiai Hasan Mi’raj mendirikan pondok pesantren dengan Bahrul Hasan Tankila atau lebih dikenal dengan Ponpes Tankila. “Selain mengajarkan agama Islam, santri Ponpes Tankila berhasil menumpas berandalan dan perampok yang menjarah barang-barang para pedagang,” kenang Kiai Ali Mustofa Said, pengasuh Ponpes Tankila.

Generasi kelima ponpes itu mengatakan, keberhasilan Kiai Hasan menumpas perampok yang meresahkan pedagang itu membuat dirinya diterima secara luas oleh masyarakat setempat. Karenanya, Kiai Hasan tidak pernah bergesekan dengan masyarakat saat melakukan syiar Islam.

Apalagi, lokasi pondok memang jauh dari tempat keramaian. “Tujuannya agar bisa belajar lebih fokus dan khusyuk,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Kabupaten Nganjuk ini.

Melihat tingginya ancaman kejahatan di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, santri di Ponpes Tankila tidak hanya belajar tentang ilmu agama Islam. Melainkan mereka juga dibekali ilmu bela diri. Metode dakwah yang mereka lakukan juga menyesuaikan kultur masyarakat setempat.

Rupanya, hal tersebut membuat masyarakat tertarik untuk belajar di Ponpes Tankila. Tidak hanya warga Desa Tanjungtani. Melainkan juga warga dari desa lainnya. Mereka sengaja datang untuk belajar ilmu bela diri dan ilmu agama Islam.

Belakangan, kemampuan bela diri santri Ponpes Tankila tidak hanya digunakan untuk melawan penjahat. Mereka juga ikut berperang melawan penjajah. Di antaranya, saat perang 10 November 1945 di Surabaya pecah.

Santri Ponpes Tankila juga aktif memerangi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 lalu. “Sebelum berangkat perang, para santri biasanya digembleng di musala,” kenang Ali.(bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Source link