Haryanto selaku kuasa hukum Abdussalam mengatakan, vonis yang dijatuhkan kepada kliennya jauh lebih ringan dari tuntutan. Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Pamekasan menuntut Abdussalam hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan penjara.

Sementara vonis hakim 8 bulan penjara dan denda Rp 1 juta subsider 2 bulan. ”Vonis hakim menurut kami ringan. Jadi, tidak perlu mengajukan banding atas putusan terhadap klien kami,” katanya Kamis (4/1).

Haryanto mengaku puas dengan vonis rendah hakim. Namun, di lain sisi merasa kecewa. Sebab, kliennya dianggap tidak melanggar perbuatan bermuatan pornografi seperti yang didakwakan.

Pasal yang dijeratkan juga dinilai kurang tepat. Abdussalam dijerat pasal 36 juncto pasal 10 UU 44/2008 tentang Pornografi. Kemudian, juncto pasal 55 (1)  ke 1 KUHP. ”Tindakan pornografinya di mana? Kenapa tindakan yang lebih parah, yang lebih telanjang tidak diproses?” katanya.

Kemudian, barang bukti (BB) yang ditunjukkan penyidik bukan video asli. Tapi, video yang sudah disebar. Seharusnya penyebar yang sekaligus menjadi saksi kunci dalam kasus tersebut juga ditetapkan sebagai tersangka.

Haryanto juga menyesalkan kinerja polisi. Sebab, yang ditangkap hanya Abdussalam. Sementara Adezta Mellany, yang statusnya masuk daftar pencarian orang (DPO) sampai sekarang masih melenggang bebas.

Dia mendesak, polisi segera menangkap Adezta. Kemudian, perempuan yang sempat terlibat skandal dengan seorang anggota DPRD Pamekasan itu juga diproses. ”Pada persidangan, saksi kunci tidak dihadirkan,” katanya.

Karena itu, kasus yang menimpa Abdussalam terkesan mengada-ada. Dia membaca, ada oknum yang dengan sengaja memperkeruh kondisi kasus tersebut. ”Entah karena persaingan sesama profesi, saya kurang paham,” katanya.

Pengacara berpenampilan modern itu yakin dalam waktu dekat Abdussalam keluar dari balik jeruji besi. Beberapa waktu lalu dia mengajukan penangguhan penahanan. Haryanto yakin dikabulkan.

Sementara itu, polisi terus memburu Adezta. Masyarakat yang mengetahui keberadaan perempuan asal Kecamatan Pademawu itu diharap melapor. ”Kalau ada yang tahu keberadaannya, silakan melapor,” kata Kasubbaghumas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki.

Untuk diketahui, pertengahan 2017 beredar video Abdussalam mengelus bagian vital Adezta Mellany. Aksi yang tidak patut dipertontonkan itu dilakukan di ruang tunggu Kantor DPMPTSP Pamekasan. Beberapa pekan kemudian, Abdussalam ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Sementara Adezta kabur dan ditetapkan sebagai buronan. 

(mr/pen/luq/bas/JPR)