Kecuali kisah keluarganya –khususnya sang ibu—yang begitu terkenal di kampung, ia sendiri juga punya popularitas di antara teman sebaya. Terutama karena ketekunannya dalam belajar dan prestasi-prestasinya di sekolah. Apalagi kemudian dia pernah tampil di TVRI –satu-satunya stasiun televisi saat itu—dalam final lomba cerdas cermat SMA se-Jawa Timur.

SD hingga SMA-nya, semua diselesaikan di brang kulon kota ini. SD negeri di desanya, SMP negeri favorit di barat sungai, dan SMA negeri terfavorit di kota dan kabupaten ini. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jakarta. Sebuah perguruan tinggi kedinasan yang jadi buruan para siswa selepas SMA.

Hingga kemudian dia resign sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Kementerian Keuangan lalu melanjutkan pendidikan dan berkarir di Australia –tetap sebagai akuntan, tak banyak lagi kawan-kawan masa kecil yang mendengar kisahnya. Apalagi, ia juga belum menjadi siapa-siapa kecuali di kalangan teman-teman sebayanya.

Cuilan-cuilan informasi hanya menyebut: Ahmad kini tinggal di negeri seberang. Hal yang bagi orang-orang di kampungnya tetap saja sebuah kemewahan. Yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tak biasa. Dan, Ahmad alias Amat, telah melakukannya. Sebuah lompatan besar dari segala kepahitan dan kegetiran hidup yang mewarnainya sejak dilahirkan dan tumbuh dewasa di bumi. Sebatas itu.

***

Malam takbiran pada akhir 1980-an. Anak-anak kecil sudah dipenuhi canda dan tawa karena pakaian barunya. Baju baru. Celana baru. Sandal baru. Sarung baru. Kopiah baru. Dari para orang tua mereka. Untuk berlebaran esok hari. Dikenakan saat berkunjung ke sanak saudara dan para tetangga.

Tapi, Ahmad masih terdiam. Malam takbiran pun terlewat tanpa ada pakaian baru. Sang kakak yang penjahit dan diandalkan untuk bisa membikin pakaian baru terlalu banyak orderan. Kain pun masih tetap menjadi kain.

“Besok setelah Magrib kita sejarah,” kata anak-anak mesjidan itu. Itu adalah istilah mereka untuk menyebut tradisi silaturahmi kepada para tokoh di desa dan kiai saat Idul Fitri. Lidah mereka kesulitan untuk mengucap ‘ziarah’ yang menjadi asal katanya.

Entah, apa yang dipikirkan Ahmad saat bocah-bocah itu janjian demikian. Hingga mereka menjemputnya dengan mengenakan pakaian serbabaru di waktu yang ditentukan, Ahmad keluar rumah juga. Dengan sandal jepit usang. Sarung yang tak lagi baru. Tapi, olala, bajunya sudah baru. Baru selesai dijahit sang kakak. Begitu cepatnya. “Aku pakai ini saja,” katanya sambil tertawa seolah kepahitan hidup bukan lagi masalah baginya.

Anak-anak pun tertawa bersama karena mafhum adanya. Maklum, teman mereka itu memang sudah sangat terbiasa untuk tidak mengenakan pakaian baru. Bahkan, seragam jebol, tas jebol, dan sepatu jebol untuk sekolah sudah biasa.

***

Suatu Hari ketika Emak Memakai Celana Dalamku. The Day when My Mother Wore My Underpants. Buku bilingual itu tiba-tiba saja menjadi perbincangan di sebagian kalangan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga Australia. Lalu, menjadi salah satu yang terlaris dari sejumlah buku yang diterbitkan oleh penerbitnya asal Jogja. Tahun lalu. 

Ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris, buku itu berkisah tentang pengalaman hidup penulisnya. Wabilkhusus pengalaman hidup bersama ibunya. Emaknya. Yang sangat dia cintai. Bagaimana pun keadaannya. Apa pun yang orang bilang tentangnya.

Pahit. Getir. Itu pasti. Namun, banyak pula kejenakaan di dalamnya. Dan, menertawakan kepahitan hidup pada hakikatnya adalah sebuah kewarasan. Seperti salah satu bagian yang kemudian diangkat sebagai judul buku ini seperti di atas: ‘Suatu Hari ketika Emak Memakai Celana Dalamku’.

Emak yang perempuan memakai celana dalam Ahmad, anak lelakinya? Begitulah. Itu bukan sebuah kiasan, melainkan sebuah kejadian. Yang nyata adanya. Mirip dengan kisah pembukanya: ‘Suatu Hari ketika Bubuk Detergen menjadi Garam.’

Lalu, percayakah Anda jika sepakbola berasal dari Saudi Arabia? Anda bisa menyimak penjelasannya di kisah ‘Asal Muasal Sepakbola’. Total sepuluh kisah yang bertalian dengan emak dirangkai secara apik dalam buku itu. Sedih. Pahit. Getir. Lugu. Tolol. Jenaka. Ngotot. Tapi, juga inspiratif.

Ahmad, tiba-tiba saja menjelma menjadi seorang penulis buku. Dari seorang akuntan. Tiba-tiba pula, kini segera terbit buku keduanya setelah ‘buku celana dalam’ itu. Berwujud novel. Lebih dari 400 halaman. Masih berlatar Kediri. Ada Kali Brantas. Ada Gunung Klotok. Ada Blabak. Ada Jl Penanggungan. Ada Jl Raung. Ada SMPN 1. Ada SMPN 4. Ada SMAN 2. Ada SMAN 5. Ada juga banyak tempat lain di wilayah ini.

Ahmad, yang berlatar belakang akuntan dan penyuka traveling, kini tak lagi bergelut dengan angka-angka. Tapi, juga bergelut dengan kata-kata. Entah, apakah dia akan segera meroket mengikuti jejak Tere Liye yang juga seorang akuntan ataukah justru akan membuat jejaknya sendiri. Yang pasti, tak seperti Tere Liye yang menyembunyikan nama, Ahmad terang-terangan menuliskan namanya. Ada tambahan Zaenudin di belakangnya.

Dan, sepertinya, Kediri masih akan tetap mewarnai karya-karya dia berikutnya. Seperti judul buku keduanya kali ini: Banjarmelati, Tiga Anak Manusia Berkisah Sendiri. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/*/die/JPR)

Source link