Salah satu pegiat angklungstik Ova mengatakan, dia mulai mengenalkan angklungstik pada awal 2017 lalu. Hal itu lantaran dia merasa prihatin dengan generasi muda di Jepara yang lebih banyak tertarik dengan musik-musik modern. Mereka mulai meninggalkan musik tradisional.

Dia pertama kali mengenalkannya dengan membentuk kelompok yang melibatkan para pemuda di desanya. Selain menonjolkan angklung, mereka tetap menggunakan gitar, bass, dan cajon sebagaimana musik akustik lainnya. ”Kami termotivasi untuk mengangkat kembali alat musik asli Indonesia dengan konsep modern sehingga bisa tetap diminati generasi muda,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dengan kreasi angklungstik itu, dia dan kelompoknya yang dinamai Angklungstik Cak Ova itu juga mempopulerkan kembali lagu-lagu kebangsaan. Mereka juga seringkali memasukkan lagu-lagu daerah yang mulai dilupakan.

Ova melanjutkan, dengan konsep modern itu angklungstik mendapat sambutan hangat terutama dari generasi muda. Sejak awal dibentuk hingga saat ini, kelompoknya selalu ramai permintaan tampil.

Di antaranya tampil di even komunitas dan organisasi. ”Lebih sering tampil di luar desa kami sendiri,” ujarnya.

Mendapat sambutan hangat dan antusias generasi muda akan angklungstik, mereka juga membuka kesempatan bagi para remaja untuk belajar bersama. ”Awalnya hanya para pemuda di Desa Margoyoso. Namun saat ini sudah mulai meluas. Banyak juga dari Desa Pecangaan yang ikut berlatih,” ungkapnya.

Karena itulah sepekan sekali, dia membuat jadwal latihan di Desa Pecangaan Wetan. Latihan bersama itu banyak dihadiri para remaja dari desa setempat. ”Kami selalu terbuka pada siapapun yang ingin belajar. Karena sejak awal tujuan kami untuk kembali mempopulerkan angklung dan lagu-lagu kebangsaan,” pungkasnya.

(ks/emy/zen/top/JPR)