GELIAT para pelaku wisata di Kabupaten Grobogan untuk mengeksplorasi potensi wisata daerah terus dilakukan.  Hal itu ditandai dengan bermunculannya beberapa destinasi wisata baru yang mereka kelola. Selain wisata arung jeram Sungai Tuntang Kedungjati dan Candi Joglo, ada juga pendatang baru lainnya yakni wisata Cindhelaras.

Wisata Cindhelaras ini termasuk pendatang baru karena baru di-launching pada Minggu 15 April 2018 lalu. Objek wisata Cindhelaras menawarkan eksotisme dengan ”surga tersembunyi” di tengah hutan. Objek wisata ini sebenarnya telah mulai digagas sejak tahun 1979 dengan konsep wisata alam dan religi. Namun sepi pengunjung karena akses yang sulit dan kurangnya perawatan, sehingga objek wisata ini mangkrak sangat lama.

Atas inisiatif beberapa pelaku wisata Grobogan kini Cindhelaras mulai dikelola kembali bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Perhutani KPH Gundih selaku pemilik kawasan. Objek wisata ini sangat potensial karena selain menawarkan panorama alam yang aduhai, juga mengandung legenda yang sangat populer. Yaitu dikaitkan dengan legenda Cindhelaras yang merupakan putra Raja Jenggala, Panji Asmara Bangun  dan istrinya Galuh Candra Kirana.

Samhudyanto, kepala pengelola wisata Cindhelaras mengatakan, wisata alam ini menawarkan konsep kekinian yang dibuat sekeren mungkin selaras dengan perkembangan zaman. ”Chindelaras kini disulap sebagai wisata alam yang menawarkan ajang uji nyali treetop adventure, camping ground, outbound, food court, aula panggung seni, dan spot-spot swafoto dengan latar panorama alam yang indah dan menawan,’’ kata dia.

Objek wisata alam Cindhelaras berlokasi di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh.   Kawasan wisata alam seluas 3,5 hektare ini lahannya milik Perhutani KPH Gundih. Lokasinya berada di petak 87, RPH Ngroto, BKPH Gundih.

Menghadapi lebaran tahun ini, pengelola menyiapkan even panggung seni untuk menyambut para pemudik dan wisatawan yang hendak berkunjung ke objek wisata tersebut. Yakni even panggung seni yang akan digelar secara gratis selama 4 hari, yakni H+1 hingga H+4 atau Sabtu hingga Selasa, 16-19 Juni 2018. Pengunjung hanya perlu membeli tiket masuk ke lokasi. Selain itu pada Juli 2018 panitia juga telah menyiapkan Festival Happy yang akan mendatangkan artis nasional Tora Sudiro.

Sebagai new comer, objek wisata Cindhelaras tengah berbenah untuk melengkapi berbagai fasilitasnya. Ke depan wisata ini diharapkan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Grobogan.

SPOT MENARIK: Sejumlah pengunjung mengabadikan momen di lokasi wisata Cindhelaras yang terbilang baru tersebut.
(SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Para pelaku wisata Grobogan terus bergiat mengeksplorasi potensi wisata di Kabupaten Grobogan untuk dijadikan destinasi wisata favorit. Salah satunya adalah wisata petualangan air di Sungai Tuntang yang berada di Kecamatan Kedungjati. Wisata ini digagas dan saat ini dikelola para pelaku wisata yang tergabung dalam komunitas Dharma Raja Adventure.

Arung Jeram Sungai Tuntang di Kecamatan Kedungjati ini menambah daftar destinasi wisata baru di bidang kepariwisataan Kabupaten Grobogan. Ternyata Kabupaten Grobogan juga mempunyai wisata arung jeram yang tak kalah menantang dengan wisata serupa di daerah lain.

Wisata arung jeram ini digagas sejak September 2016. Ketika itu masih berupa river tubing. Yakni petualangan menyusuri derasnya air Sungai Tuntang dengan menggunakan sarana ban dalam truk tronton atau bus. Petualangan dilakukan rombongan, yakni sebanyak enam sampai tujuh ban dirangkai dengan tali, lalu masing-masing orang menaiki satu ban dengan posisi berjajar ke belakang.

Layanan river tubing kemudian ditingkatkan lagi dengan dibukanya layanan rafting atau arung jeram pada bulan Juli 2017. Dibukanya rafting Sungai Tuntang ini setelah pengelola berkonsultasi dengan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Jawa Tengah pada bulan Februari 2017. Saat itu beberapa pengurus FAJI Jateng bahkan  menyempatkan berkunjung dan memberikan supervisi terkait aktivitas rafting di Sungai Tuntang.

Rute rafting menyusuri Sungai Tuntang  sendiri berjarak kurang lebih 16 km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam termasuk istrirahat. Adapun river tubing berjarak sekira 2 kilometer dengan waktu tempuh sekira 45-60 menit.

Star rafting dimulai dari sisi utara jembatan Dusun Methuk, Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Semarang. Di sepanjang rute rafting akan ditemui medan-medan yang menantang yang dapat memacu adrenalin.

”Keistimewaan rafting Sungai Tuntang adalah jalur yang relatif lebih aman dan grade arung jeram  II-IV, serta didukung arus yang lebih deras,” kata Koordinator Dharma Raja Adventure Abdul Rozak.

 Pelan tapi pasti, wisata arung jeram Sungai Tuntang mendapatkan sambutan hangat, tak hanya dari warga Grobogan. Namun juga warga luar Grobogan. Tercatat banyak komunitas dan lembaga menjajal wisata baru yang sangat menantang ini. Diantaranya, Paguyuban Silat Gelora Gubug, SD Integral Luqman al-Hakim Purwodadi, SMK Astra Mitra Purwodadi, SMA N 1 Wirosari, MGMP MI Geyer, Unilever Purwodadi, CV Erlangga, Mahapala Unnes Semarang, MTs dan MA Ar-Ridho Meteseh Semarang, MGMP Guru Olahraga Grobogan, CV. Mutiara Tour, I Love Kedungjati (ILK), Purbasari Kosmetik Pati, dan banyak lagi.

Harapan ke depan, wisata arung jeram Sungai Tuntang ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Grobogan.

”Pada musim liburan lebaran tahun ini, pengelola siap melayani wisatawan yang ingin menguji adrenalin menyusuri derasnya arus air Sungai Tuntang Kedungjati,” terang dia.  

ASYIK MENANTANG: Wisata Arum Jeram di Sungai Tuntang menjadi alternatif saat menikmati liburan Idul Fitri di Kabupaten Grobogan.

ASYIK MENANTANG: Wisata Arum Jeram di Sungai Tuntang menjadi alternatif saat menikmati liburan Idul Fitri di Kabupaten Grobogan.
(SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Sementara itu, candi Joglo yang berada di Jalan Kartini Desa Krangganharjo, Toroh, menjadi andalan wisata baru dan kian diminati bagi warga Kabupaten Grobogan dan sekitarnya. Terbukti memasuki mudik lebaran, pengunjung meningkat tiga kali lipat.

Wisata yang belum diresmikan itu telah dibuka pada awal Februari lalu. Bermula saat pemilik dan pengelola Candi Joglo Muhadi sedang memperbaiki kolam ikan. Tak sengaja pintu sedikit terbuka lalu ada pengendara yang melihat dan izin foto di gapura bangunan.

Selanjutnya di unggah di media sosial dan mulai banyak pengunjung. Hingga akhirnya ia membuka bangunan yang sudah berdiri sekitar 10 tahun tersebut. Meski belum rampung 100 persen.

 ”Awalnya saya pakai pribadi untuk bermeditasi. Lalu pada 2014 sempat bertemu budayawan, mulailah saya jadikan sanggar seni dan budaya. Kini sudah dibuka untuk umum,” ungkap Muhadi.

Bahkan selama Ramadan ini, pengunjung yang datang bisa tiga kali lipat dibanding hari biasanya yang mencapai 300-500 orang. ”Mendekati Lebaran karena libur panjang sehingga pengunjung meningkat. Diprediksi akan semakin meningkat setelah Lebaran nanti. Kami mengantisipasinya dengan hanya tutup sehari saat Lebaran saja,” ungkapnya.

Baginya menariknya banyak pengunjung dikarenakan konsep bangunan yang mengangkat budaya Bali dan Jawa. Ia menyulap tempat meditasi ini benar-benar mirip di Pura.

”Namun ini bukan tempat peribadatan agama tertentu. Konsep candi lebih ke wadah pelestarian budaya dan edukasi. Sehingga semua agama bisa ke sini, bahkan mereka juga masih bisa bermeditasi di sini,” jelasnya.

Konsep tersebut diambil karena keprihatinan pada budaya yang sudah terabaikan. Apalagi budaya Jawa itu sendiri, secara histori Jawa lebih tua dari Bali. Maka ia mencoba memperpadukan kedua budaya tersebut.

Untuk konsep Jawa dibangunlah joglo dengan tiang-tiang pancang yang kokoh terbuat dari kayu jati. Serta ada omah pawon yang berisi peralatan masak zaman dulu. Hingga kakus dan alat pertanian masa silam juga ditampilkan.

Sedangkan konsep Bali diperlihatkan dari gapura candi yang merupakan gapura Sriwedari. Leak, barongan, arca hingga suasana dan aroma Bali ditampilkan. Baginya konsep Bali dipilih juga karena masyarakat banyak yang mengidam-idamkan Pulau Bali. Mereka harus merogoh kocek yang mahal karena jarak yang jauh untuk ke sana.

”Nah maka kami mengaplikasikan bangunan ini mirip keadaan di Bali. Sehingga bisa menjadi pengobat rindu mereka pada Bali. Maka tak perlu jauh-jauh ke Bali, karena mereka bisa dapatkan Bali kecil di Grobogan ini,” ujarnya.

Untuk menambah kesan berada di Pulau Bali, pengunjung bisa menyewa kain poleng khas Bali dengan sewa Rp 5 ribu, serta ikat kepala khas bali dengan harga sewa Rp 2 ribu. joglo tersebut menjadi sentralisasi perwujudan akulturasi kebudayaan sebagai perwujudan nilai-nilai kebaikan dan keadilan.

RAMAI PENGUNJUNG: Wisata baru Candi Joglo di Jalan Kartini Desa Krangganharjo, Toroh, ramai pengunjung.

RAMAI PENGUNJUNG: Wisata baru Candi Joglo di Jalan Kartini Desa Krangganharjo, Toroh, ramai pengunjung.
(INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

(ks/mun/int/him/top/JPR)