Terutama mereka yang bergelut di dunia kreativitas. Entah itu kreativitas berorientasi usaha ataupun karya. “Berani berimajinasi itu sangat penting,” kata perempuan 25 tahun itu. 

Sarjana ilmu komputer Universitas Brawijaya Malang itu menjelaskan, imajinasi menjadi bekal sekaligus sumber kreasi apapun. Terutama yang berhubungan dengan produktivitas dan karya. Secara pribadi, sudah suka mengasah imajinasi sejak kecil. 

“Saya suka berimajinasi. Supaya imajinasi saya tidak hilang, saya abadikan dengan tulisan,”  ujar dara yang bergelut di dunia literasi.

Berimajinasi yang dia maksud, bukan berarti angan-angan kosong tak berujung produktivitas. Berimajinasi, baginya, harus dimaknai positif.

Misalnya, membayangkan sesuatu untuk diciptakan, jika belum ada. Ataupun membayangkan sesuatu diperbaiki, jika sudah ada namun kurang baik. 

“Terutama di dunia tulis-menulis, kontribusi imajinasi sangat besar,” imbuh dia. Dara yang saat ini fokus menulis sebuah novel itu mengaku, perkembangan dunia literasi, terutama di Bojonegoro tergolong cepat.

Alasannya, sudah mulai banyak penulis yang muncul dari Kota Ledre. Entah itu tulisan kebudayaan, jurnalistik atau prosa fiksi. Nah, munculnya berbagai penulis di Bojonegoro,  tentu tidak lepas dari keberanian untuk berimajinasi.

“Banyak penulis Bojonegoro sudah menerbitkan buku. Bahkan ada yang tembus penerbit mayor. Tentu itu karena keberanian berimajinasi,” ucapnya.

(bj/zky/rij/bet/dka/JPR)

Source link