Bahkan bibi kedua pelapor itu balik melapor ke Polsek Menndoyo. Menurut Wardani, dirinya tidak mengeroyok dan mencakar keponakanya itu tetapi justru dirinya yang dikeroyok.

“Justru saya dipukul dua kali. Adiknya memukul kening dan di bawah mata. Rambut saya juga dijambak. Masa saya mau mengeroyok,” ujar Wardani kemarin.

Jika ada patahan kuku yang ditemukan di rambut, menurutnya, disebabkan karena saling jambak rambut dan saat itu dirinya berada di bawah dan hingga sekarang lehernya masih terasa sakit.

“Tidak mungkin saya mengeroyok. Apalagi keduanya saya yang menyekolahkan sampai tamat dan saat itu saya masih mengontrak rumah,” ungkapnya.

Sebelumnya, dirinya sedang berkeliling bersama keluarga lainnya untuk Merayas dengan kondisi perut agak mual.

Ketika berkata “Seneb Gati Basange” tiba-tiba ibu kedua keponakannya itu menyahut dengan perkataan yang sama.

“Saya berkata seperti itu karena perut saya memang mual. Tahu-tahu ibu mereka  menyahut. Banyak saksinya, dia terus menatap saya sampai keluarga lainnya bertanya,” ungkapnya.

Setelah keliling bersama keluarga lainnya Wardani duduk untuk sembahyang bersama. Jarak duduknya dengan ibu kedua keponakannya sekitar 2,5 meter.

Saat duduk itu Wardani sempat bertanya kepada ibu kedua keponakannya itu kenapa menatap dirinya seperti itu.

Namun, dijawab oleh anaknya dengan omongan kasar “Cicing berengsek jelemane to”. “Anaknya terus berkata kasar, ada saksinya. Tapi saya diam karena mau sembahyang,” ujarnya.

Usai sembahyang, Wardani memanggil keponakannya dengan maksud untuk bertanya. Namun saat memegang tangan kiri keponakannya, tangganya dihempas oleh mereka sambil berkata ‘Ibu de turut campur’ (Ibu jangan ikut campur).

Bahkan, adiknya memukul kening sebelah kanan sampai bejol di bawah mata.“ Saya juga dijambak sampai jatuh. Lalu Ayu Evi saya jambak ,” jelasnya.

Wardani juga menegaskan kalau dirinya tidak memiliki dendam dan tidak mengerti kenapa keluarga keponakannya membenci keluarganya.

Diduga awal kebencian muncul saat keluarga keponakannya bertanya ke orang pintar pasca meninggalnya ayah kedua keponakannya sekitar tiga bulan lalu.

Saat bertanya itu ayah keponakannya dikatakan meninggal karena terkena “tembakan” dari orang berinisial G.

“Saya menduga awal kebencian dari sana. Supaya tidak berlarut-larut saya sarankan ke suami medewa saksi (sumpah), tapi suami bilang tidak usah dihiraukan,” ujarnya.

Wardani sebenarnya ingin menyelesaikan  masalah itu secara kekeluargaan, tetapi karena dilaporkan, dirinya kemudian melaporkan balik kedua keponakannya tersebut.

“Yang dikeroyok itu saya, bukan mereka. Keluarga semua melihat dan membantu melerai,” ujar Wardani.

Kapolsek Mendoyo Kompol Gusti Agung Sukasana membenarkan adanya laporan dari pihak terlapor.

“Keduanya melapor. Kami sarankan supaya penglisir bisa memediasi sehingga bisa diselesaikan secara kekeluargaan karena mereka

masih ada ikatan keluarga. Kalau tidak, kami akan bekerja secera professional menangani kasus ini,” ungkapnya.

(rb/nom/mus/mus/JPR)

Source link