Saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Ruang Angsoka, lantai 3 nomor 5, Gregorius Goang menceritakan kalau kondisi anak satu-satunya ini tengah melakukan perawatan intensif dari pihak rumah sakit. Mengingat, penemuan penyakit baru yang ditemukan saat melakukan pemeriksaan rawat jalan sejak 4 bulan lalu oleh tim dokter, kalau anaknya ini juga mengalami derita penyakit bocor jantung.

“Awalnya begini, anak saya memang terlahir tanpa lubang anus. Dan ke Bali ini memang sudah berdasarkan rujukan dari Rumah sakit Umum Dr. Ben Mboy Ruteng yang sebelumnya sudah melakukan operasi kolostomi (lubang buatan di perut, red) di Manggarai,” jelasnya. Akan tetapi, lanjut Gregorius Goang, penanganan lebih lanjut harus dilakukan di Bali. “Di Bali kita sudah hampil empat bulan lebih. Dan semenjak proses rawat jalan, kondisi anak saya semakin parah. Ternyata penemuan sakit baru yang dideritanya ini adalah bocor jantung. Bisa dibilang komplikasi, sudah tidak memiliki lubang anus, bocor jantung, dan sering HB rendah, sering panas serta batuk pilek,” keluh pria yang hanya berprofesi sebagai petani di desa Compang Ndejing ini.

“Bahkan pernah suatu waktu, anak saya ini sering demam hingga bibir berwarna coklak kehitam-hitaman. Makanya saya dan istri saya sangat cemas. Syukurnya, hari Rabu tanggal 7 Februari kemarin kami sudah mendapat ruangan untuk rawat nginap di RS Sanglah,” lanjutnya.

Terkait hasil kontrol terakhir, Gregrorius Goang mengatakan kalau pihak dokter akan segera menangani penyakit yang diderita anaknya ini. Akan tetapi masih butuh proses dan waktu 2 atau 3 bulan lagi. “Karena yang saya dengar dari dokter masih akan tetap dirawat tapi masih butuh waktu lama dan memang di sini juga kekurangan tenaga dokter spesialis jantung,” ungkapnya.

Jadi yang diutamakan, lanjut Gregorius Goang, terlebih dulu melakukan operasi lubang jantungnya dulu baru setelah itu melakukan operasi pembuatan lubang anus. “Sebenarnya dari hari Kamis kemarin sudah ditangani operasi, tapi karena kondisi fisik dari anak saya belum fit karena sering panas, makanya ditunda dulu,” katanya.

Disinggung soal biaya pengobatan, Gregorius mengaku sangat membutuhkan biaya tambahan. Terlebih sangat berharap agar pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Timur, Flores-NTT bisa sedikit membantu selama perawatan anaknya di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.

“Ya untuk pembiayaan RS, memang kita masih menggunakan BPJS. Tapi saya tidak pungkiri kalau kebutuhan hidup serta pembelian obat pun sangat membutuhkan biaya yang cukup banyak. Saya sangat berharap, kami bisa mendapat perhatian khusus dari pemda setempat,” tutupnya.

Untuk diketahui, berdasarkan keterangan yang diungkapkan ayah dari pasien balita yang menderita sakit lubang jantung dan tanpa anus ini, sebelum ke Bali dirinya sudah mengajukan berkas ke Dinas Sosial untuk meminta bantuan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur. Namun, jawaban yang diberikan dinas terkait, belum bisa diberikan karena ada sedikit masalah. Selanjutnya Dinas Sosial mengarahkan dirinya untuk coba membawa berkas tersebut untuk diserahkan ke bagian Kesra (Kesejahteraan Masyatakat) Kabupaten Manggarai Timur, tapi belum ada tindaklanjutnya. 

(bx/vir/yes/JPR)

Source link