“Secara hukum sudah tidak ada hambatan. Lahan sudah dikonsinyasi alias sudah terjadi peralihan hak. Kami juga sudah melayangkan surat peringatan terakhir (SP3). Tinggal menunggu waktu untuk dipindahkan,” ujar Agus Pandu Jumat (11/5).

Upaya pengosongan lahan masih terkendala karena beberapa warga masih bertahan di lokasi pembangunan NYIA. ‘’Namun kami optimistis target NYIA beroperasi pada April 2019 tetap terkejar,’’ kata Agus Pandu.

Pekerjaan di lapangan tetap berlangsung meskipun masih ada sebagian bidang lahan yang belum dibersihkan (land clearing). Saat ini kegiatan masih fokus pada proses pemadatan tanah dengan teknik dynamic compaction.

‘’Terutama di bagian airside (sisi udara) sebagai calon lokasi landasan pacu,” kata Agus Pandu.

Land clearing tinggal menyisakan beberapa petak lahan. Yakni 32 rumah atau 37 kepala keluarga (KK). Pemindahan warga penolak bandara tersebut akan dilakukan secepatnya supaya proses konstruksi pembangunan bandara bisa dilanjutkan.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo juga sudah mendatangi beberapa rumah warga penolak. Dari situ, ada sedikit titik terang terkait sikap warga bahwa sebetulnya mereka bersedia dipindahkan.

“Namun, karena sudah berkomitmen untuk menolak pembangunan bandara, mereka menunggu untuk bersama-sama dipindahkan,’’ kata Hasto.

Pihaknya juga telah menyiapkan skenario menampung warga ke rumah yang disewa Angkasa Pura (AP) I. Armada angkut juga akan dikerahkan membantu memindahkan barang-barang milik warga.

Direktur Hubungan Internasional dan Pengembangan Usaha AP I Sardjono Jhonny Tjitrokusumo menyatakan target minimum operasi NYIA pada April 2019 optimis bisa tercapai. Walaupun masih ada sebagian warga yang bertahan di dalam areal pembangunan bandara.

“Kita doakan semoga saat pengosongan lahan semua warga sudah siap (dipindah). Truk sudah siap untuk angkut barang, orangnya kita siapkan rumah dan dijaga. Jangan sampai pada saatnya nanti mereka terlantar dan tidak dimanusiakan,” kata Sardjono.

Minimal saat bandara beroperasi kali pertama sudah dilengkapi landasan pacu, terminal penumpang, konter check in, dan fasilitas pemadam kebakaran. Saat ini, calon landasan sedang dipadatkan untuk dicor dan diaspal.

Volume pekerjaan di sisi lahan lainnya juga sudah dilakukan dengan kapasitas ganda secara simultan dan paralel untuk airside maupun landside.  “Warung-warung gerai komersil belum ada. Tidak masalah. Nanti bisa menyusul,’’ katanya.

Paling penting, kondisi minimum operation terpenuhi untuk mendapatkan sertifikasi operasional bandara. ‘’Dengan kerja simultan saya optimistis minimum operation bisa dicapai awal April 2019,” kata Sardjono

(rj/ong/ong/JPR)

Source link