Sebagai Kampus keislaman, IAIN Jember memiliki tanggung jawab untuk merumuskan solusi permasalahan pendidikan. Untuk itulah, BEM FTIK menyelenggarakan seminar nasional dengan tema Education, Threat and opportunity. Hadir sebagai narasumber Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jember, Dr Erma Fatmawati, dan Dr Machfudz, praktisi pendidikan. 

Erma menjelaskan, ajaran Islam yang pertama  diturunkan adalah tentang pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari surat al Alaq ayat 1 hingga 5. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang tua terhadap anaknya. “Pendidikan  bekal yang sangat fundamental agar manusia benar-benar berbeda dengan mahluk Tuhan yang lainnya,” terangnya. 

Menurut dia, orang tua memiliki kewajiban mendidik atau menyekolahkan sang anak. Pendidikan menjadi pegangan generasi agar memiliki prinsip dan arah tujuan dalam menjalani kehidupan. “Pendidikan madrasah merupakan  model pendidikan Islam yang dikembangkan dari spirit ajaran Islam,” tambahnya. 

Pendidikan madrasah di Indonesia diawali oleh pendidikan pesantren di  tengah masyarakat. Hal itu bermula dari keinginan masyarakat yang terus berubah dan berkembang akan dunia pesantren. Seiring perkembangan zaman, tantangan pendidikan terus berkembang sekaligus memiliki peluang baru. 

“Pertama, tantangan teknologi informasi bagi masyarakat, di satu sisi perkembangannya sangat membahagiakan, namun juga mengkhawatirkan,” jelasnya. Kedua, maraknya pergaulan bebas yang membawa kemerosotan moral. Berdasarkan data BPS tahun 2013, seribu kehamilan remaja putri di Indonesia, 48 diantaranya berstatus hamil di luar nikah.

Bahkan, data pusat unggulan asuhan terpadu BKKBN menunjukkan,  sekitar 2,1  sampai 2, 4 juta perempuan diperkirakan melakukan aborsi setiap tahun. Tiga puluh persen di antaranya adalah remaja putri. “Tantangan ketiga, pentingnya pembenahan pendidikan di Indonesia,” terangnya. 

Yakni, peningkatan kualitas sumber daya manusia, sarana, dan prasarana pendidikan. Kemudian, orientasi kurikulum yang ajek dan manajemen serta sumber alokasi pendidikan yang memuaskan dari APBD dan APBN serta sumber dana dari partisipasi. 

Peluangnya, lanjut Erma, Indonesia memilik banyak tokoh pemikir pendidikan Islam. Mereka bisa merumuskan solusi pendidikan. Kedua, pendidikan yang diinisiasi oleh masyarakat jumlahnya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang dimiliki pemerintah. “Ini artinya, warga menilai  pentingnya investasi pendidikan bagi generasi,” ujarnya. 

(jr/gus/dwi/das/JPR)

Source link