“Kita ingin belajar cara untuk memelihara perdamaian, meski pernah terlibat dalam aksi teror,” ujar Stephanus saat konferensi pers.

Namun, dia tidak membeberkan secara jelas maksud kedatangannya ke YLP. Stephanus hanya mengatakan bakal membuka kerjasama terbuka bidang pendidikan bagi anak cucu mantan napiter yang ingin mengenyam pendidikan di Belanda.

Menurut dia, saat ini negaranya sedang dihantui sekumpulan teror tidak mengenakan. Bahkan, beberapa warga Belanda terlibat Daesh (ISIS). Para pelaku teror itu harus menerima hukuman sesuai aturan di sana.

Namun, metode tersebut dinilai tidak bisa membuat jera para mantan napiter untuk menghentikan aksinya. Karena itu, Stephanus memilih belajar ke YLP tentang cara memberikan pemahaman secara halus supaya bisa diterima.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius, menuturkan, metode melawan kekerasan dengan kekerasan sudah tidak efisien.  Karena itu, pemerintah butuh dukungan dari banyak pihak melawan aksi radikalisme dan terorisme dengan cara sendiri.

Dia sangat mendukung upaya dari mantan napiter dalam mendirikan yayasan tersebut. Harapan ke depannya, bisa menjadi contoh bagi eks kombatan lainnya.

Selama ini, narapidana teroris mendapatkan penanganan langsung dari BNPT. Dia mengklaim, seluruh narapidana teroris dan keluarganya menjadi tanggung jawab BNPT. “Tidak ada yang dimarginalkan, semua kita rangkul untuk lebih baik,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ali Fauzi mengatakan, dirinya diminta Menlu Belanda untuk menceritakan metode penanganan gerakan radikal. Sebab, di Belanda banyak yang sebelumnya imigrasi ke luar negeri, tergabung dengan ISIS. Saat dideportasi ke Belanda, sebagian di antara mereka membuat gerakan radikal yang mengancam keutuhan negara Belanda. ‘’Mereka ingin belajar metode deradikalisasi mantan napi,’’ ujar pria yang akrab disapa Manzi ini saat dikonfirmasi via ponsel.

(bj/jar/msu/rka/yan/bet/JPR)

Source link