Agung Gihardi warga Kelurahan Balun mengatakan, air mulai terlihat naik ke permukaan dan mendekati permukiman sejak pukul 05.00. Hingga siang, debit air terus naik. “Di sini konstruksi bangunannya tergolong tinggi. Jadi kalau air masih segini belum bisa masuk,” katanya. 

Masuknya air sampai ke permukiman warga, menurut Agung, karena pintu air pada tanggul tidak berfungsi normal. Pintunya sudah lama rusak. Sehingga, air dari bengawan masuk melalui gorong-gorong yang tersambung hingga ke pintu air.

Anggota Tim Respon Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Dae­rah (BPBD) Blora Agung Tri mengatakan, dari empat desa yang terdampak banjir kebanyakan menggenangi persawahan. Seperti di Desa Jipang, air menggenangi areal persawahan seluas 10 hektare. 

Desa Sumberpitu, air juga menggenangi areal persawahan seluas 2 hektare. Di Desa Nglanjuk permukiman penduduk juga aman dari luapan air, hanya 4 hektare lahan pertanian tergenang. “Hanya di Kelurahan Balun, air setinggi 50 sentimeter (cm) merendam jalan lingkungan,” tuturnya.

Kondisi Bengawan Solo kemarin siaga kuning. Pukul 06.00 dari papan duga air Karangnongko, air menyentuh ang­ka 28.76. Pukul 09.00 air kembali naik 28.78. Namun, pukul 12.00 debit air Bengawan Solo mengalami penurunan, menjadi 28.67 meter. “Sampai saat ini air berangsur menurun,” imbuhnya.

Disinggung terkait kemungkinan luapan air lagi? Menurut Agung, tergantung dari hulu, seperti Sragen, Madiun, dan Ponorogo. Jika ada kiriman air lagi, bisa saja air Bengawan Solo naik lagi. “Tergantung cuaca hulu sore ini (kemarin),” ujarnya. 

(bj/fud/rij/faa/JPR)

Source link