Kesan pertama dari kiai yang rambutnya nyaris memutih semua itu adalah pancaran kebersahajaannya. Sederhana dalam mengajar. Juga akrab dengan siapapun yang ada di sekitarnya. Tak ada kesan tinggi hati pada sosok yang kedalaman ilmunya sudah diakui banyak orang ini.

Ndalem hingga pondoknya juga sederhana. Semuanya berupa rumah panggung berbahan kayu. Sang kiai tak ingin membangun pondok dari meminta bantuan ke sana-sini. Kiai Dhowi masih ingat, bantuan terakhir datang ke pondoknya pada 2000. Itupun datang tanpa diminta. Asalnya dari Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

“Tidak suka bangun-bangun. Terakhir bangun ya rumah panggung untuk tamu ini. Juga ada bakti sosial dari TNI AL bikin toilet untuk tamu itu,” terangnya sambil melepas tawa.

Dia mengaku dulu tak berniat membangun ponpes. Itulah mengapa walaupun sudah meluluskan ribuan santri, ponpesnya belum juga dia beri  nama. “Awalnya hanya mengajari dua anak saya itu. Lama-lama banyak yang datang dan nyantri. Jadi saya sediakan kamar-kamar panggung itu untuk santri saya,” akunya.

Kiai Dhowi pun sejatinya hanya lulusan sekolah dasar (SD). Itupun dia tempuh dalam waktu delapan tahun! Sering tak naik kelas. Dia sadar keluarganya yang pas-pasan ekonominya akan sulit memberikan pendidikan tinggi untuk anak-anaknya.

Sejak itu, Dhowi muda mencari guru yang bisa mengajari ilmu agama dan bahasa. Tujuannya sederhana, bila dia nanti tak bisa menyekolahkan anak-anaknya, bisa dia ajari sendiri. “Saya tak pernah mondok di pesantren. Hanya mondok nduduk (pulang pergi, Red) ke rumah guru-guru saya,” terangnya.

Dhowi muda pernah menyerap ilmu dari Kiai Toha, 45 tahun silam. Dari kiai yang tinggal di Kebondalem, Kandangan, ini Kiai Dhowi mendalami ilmu mantiq.

Dari rumahnya, tempat mengajinya itu 15 kilometer jauhnya. Itu dijalani dengan mengayuh sepeda setiap hari. Pernah, saat pulang ban sepedanya meletus. Lalu, dua pedal sepedanya juga rusak. Alhasil, dia terpaksa pulan jalan kaki dengan menenteng sepeda. Padahal, waktu itu pas bulan puasa.

“Sampai rumah ternyata tak ada makanan maupun minuman. Jadinya ya hanya minum air sumur. Sambil menunggu sahur esoknya baru makan,” kenangnya.

Kiai Dhowi juga pernah berguru langsung ke Kiai Muhdhor di Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Di sini dia memperdalam ilmu alfiyah atau tata bahasa arab.

Memang, Kiai Dhowi selalu mendatangi orang-orang pintar seperti Kiai Muhdhor itu. Kemudian minta diajari. Tak jarang berlangsung secara privat. “Saya juga pernah belajar bahasa Arab ke KH Ahmad Yazid di Desa Tulungrejo (Pare),” ungkap Kiai Dhowi.

Dia belajar ke Kiai Yazid karena tokoh itu mahir delapan bahasa asing. Saat belajar bahasa di Kiai Yazid itu dia berbarengan dengan Kalend Osen. Sosok yang lebih dikenal dengan Mr Kalend. Pendiri Kampung Inggris Pare.

Saat itu keduanya beda konsentrasi. Karena Mr Kalend fokus pada bahasa Inggris. Sedangkan Kiai Dhowi konsentrasi mendalami bahasa Arab.

“Sangat beruntung bisa belajar bahasa Arab pada Kiai Yazid,” ungkap lelaki yang memberi nama anak sulungnya dengan nama sama dengan sang guru, Ahmad Yazid, ini.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link