TUKAR MAKANAN: Ginanjar (paling kiri) bersama teman-temannya, mahasiswa dari Uzbekistan dan Bangladesh. Mereka biasa bertukar makanan saat waktu berbuka tiba.
(Dok. Pribadi)

TIDAK ada euforia Ramadan di Korea Selatan. Itulah yang dirasakan Ginanjar Widya Pamungkas, 22, selama berpuasa di negeri ginseng itu. Tadarus pun dilakukan seminggu sekali, yaitu setiap malam minggu.

Kuliah di Kumoh National Institute of Technology (KIT) di Korea Selatan membuat Ginanjar Widya Pamungkas, 22, harus jauh dari keluarga. Warga Jalan Hasyim Ashari 40, Kota Probolinggo itu, mengikuti program beasiswa internal di kampusnya yakni Telkom University, Bandung. Dia pun lolos dan berangkat ke Korea Selatan.

Tepat tiga bulan selama puasa Ramadan, Ginanjar menginjakkan kaki di Korea Selatan. Ginanjar pun mengaku senang. Namun, kuliah di Korea Selatan membuat dia harus menjalani puasa di negeri orang.

Untuk pertama kalinya, Ginanjar puasa Ramadan di Korea Selatan. Di negara itu, waktu berpuasa cukup panjang. Yakni sekitar 16 jam. Lebih lama dua jam dibandingkan dengan Indonesia.

Berpuasa tanpa keluarga besar, membuat Ginanjar merasa sedih. “Ini pengalaman pertama saya. Yang pasti ada senangnya dan sedihnya. Senang bisa merasakan suasana puasa yang berbeda dari biasanya,” tuturnya.

Namun, dia juga mengaku sedih. Sebab, berpuasa di Korea Selatan sangat berbeda dengan di tanah air. Tidak adanya euforia Ramadan di Korea Selatan. Bahkan, Ramadan bernuansa seperti bulan-bulan biasa.

“Seperti bulan biasa saja di negara ini. Hanya komunitas muslim di masjid sekitaran kota dan mahasiswa muslim yang ada di kampus yang merayakan datangnya ramadan,” terangnya.

Selain itu, euforia Ramadan tidak dirasakannya sama sekali. Tidak ada pedagang takjil, bedug buka, patrol keliling dan bedug sahur. Apalagi petasan, tidak ada sama sekali.

Maklum, warga Korea Selatan mayoritas non muslim. Dalam kondisi seperti itu, Ginanjar mengaku kesulitan mencari makanan halal untuk berbuka dan sahur. Karena itu, dia pun memasak sendiri.

“Untuk makanan biasanya saya memasak sendiri makanan halal. Biasanya saya masak ayam dan makanan siap saji,” tuturnya.

Beruntung, Ginanjar masih bisa ke masjid. Setiap malam minggu dia pergi ke masjid Al Huda. Masjid itu didirikan oleh komunitas umat muslim Indonesia (KUMI) di pusat Kota Gumi.

“Di sana kami berbuka bersama dan makanan yang ada di sana biasanya masakan dari penjuru Indonesia,” tandasnya.

Menurutnya, saat ramadan kegiatan yang dilakukan mahasiswa muslim di Korea Selatan, sama seperti di Indonesia. Namun, kegiatan tadarus sedikit sekali. Sebab, ke masjid hanya dilakukan saat akhir pekan.

“Yang jarang saya lakukan ya tadarus. Kami biasa ke masjid setiap akhir pekan saja. Tarawih biasanya selesai jam 11 malam. Jadi harus cepat-cepat kembali ke asrama kampus sebelum kena pinalti. Karena itu jarang tadarus,” ungkapnya.

Namun, ada kegiatan yang dianggapnya unik di Korea Selatan selama ramadan. Menjelang buka puasa, setiap mahasiswa muslim berkumpul menjadi satu di dapur asrama yang ada di kampus.

Begitu waktu bebuka puasa tiba, mereka saling bertukar masakan khas negara masing-masing. “Saya bersama teman-teman muslim dari beberapa negara berbuka bersama di dapur. Sekalian merasakan makanan masing-masing negara. Yang paling sering ngicip makanan dari Bangladesh yang rasanya ada rasa kari semua,” tuturnya tertawa.

Dengan cara itu, rindu pada tanah air sedikit terobati. Apalagi, mahasiswa muslim saling mendukung selama di Korea Selatan.

“Misalnya menghadapi kondisi Subuh sekitar jam setengah 4 dan maghrib sekitar jam setengah 8, kami lakukan dengan saling memberi dukungan antar sesama muslim. Dengan begitu, puasa jadi bersemangat,” terangnya.

(br/sid/mie/mie/JPR)

Source link