Eksibisionis adalah dorongan fantasi seksual yang mendesak dan terus-menerus dengan memamerkan bagian genitalnya kepada orang lain. Dorongan tersebut bertujuan untuk menakuti, mengejutkan atau untuk dikagumi. Gangguan ini umumnya berawal di masa remaja dan berlanjut hingga dewasa.

Ada banyak faktor yang menyebabkan orang yang mempunyai kelainan ini. Salah satunya adalah perkembangan psikologis yang tak sempurna semasa anak-anak. Yanny Tuharyati SH MH, aktivis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bondowoso menuturkan, banyak kasus kekerasan seksual yang menyebabkan dampak negatif pada anak di masa depan.

Biasanya penderita mengalami perasaan rendah diri, tidak aman serta memiliki ibu yang dominan dan sangat protektif. Karena itu, penderita tidak bisa berinteraksi dengan lawan jenisnya. Pengalaman masa kecil tersebut dapat berkontribusi besar terhadap rendahnya tingkat keterampilan sosial dan harga diri, rasa kesepian dan terbatasnya hubungan intim. 

“Bisa karena keturunan, tertekan, dan remaja yang tidak bisa mengendalikan seksnya. Maka sifat itu akan terbawa sampai orang tersebut tua nantinya,” kata dosen yang mengajar di Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.

Karena itu dirinya menekankan pentingnya pembekalan tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada seluruh orang tua. “Mereka harus dibekali dengan pengetahuan untuk waspada terhadap orang asing. Namun demikian orang tua juga harus mendapat pembekalan mengenai cara mendidik anak dari sisi pembentukan norma moral dan sosial,” ujarnya.

Dirinya juga menegaskan pentingnya pendidikan seksual sejak dini, kalau bisa sejak anak bisa membedakan laki-laki dan perempuan. “Bukan memberitahukan tentang aktivitas dan kelainan seksual, namun untuk menunjukkan bagian tubuh mana yang harus dilindungi dari orang lain,” pungkasnya. 

Sementara itu, Muhib Alwi, ketua himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jember melihat, aksi itu sebenarnya dipicu oleh dorongan libidonya yang tak tersalurkan. Saat hasrat seksual itu sudah memuncak, ada kesempatan berbuat pelecehan. Maka dia akan melampiaskan pada perempuan yang ada di sekitarnya. “Biasanya pelaku itu orang yang tidak kita sangka-sangka,” ujarnya. 

Sebab, kata dia, perilakunya diam dan tidak menunjukkan perilaku agresif dalam kegiatan sehari-hari. Terbiasa memendam keinginan secara pribadi dan tidak menampakkannya pada orang lain.

Kemudian, lanjut dia, perilaku tak senonoh yang menunjukkan kemaluan mendapatkan kepuasan dengan perbuatannya. Perilaku  eksibisionis yang menyimpang  itu merasa hasrat tersalurkan saat menunjukkan kelamin pada lawan jenis.

“Ini jenis penyakit gangguan seksual yang perlu penanganan medis dan psikologis,” papar dosen Institut Agama Islam Negeri Jember tersebut. Penyakit itu bisa disebabkan karena gangguan dalam otak. Selain itu,  juga pernah mengalami trauma masa kecil sebab pernah menjadi korban kekerasan seksual pada alat kelamin.

Pelaku yang mengalami gangguan kelainan seksual itu harus mendapatkan penanganan dari psikiater dan psikolog secara bersamaan. Sebab, membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkannya. Mereka butuh terapi agar perilaku menyimpang itu bisa disembuhkan.

Dia menilai, ada dua kategori pelecehan seksual. Pertama pelecehan yang cukup berat. Dampak  pada korban akan menimbulkan trauma  yang berkepanjangan. Sehingga korban perlu mendapat konseling individual. “Kedua pelecehan kategori ringan, efek pada korban sebatas shock spontan dan cukup menghindari sumber trauma,” jelasnya.

Muhib menjelaskan fenomena yang mulai marak terjadi di daerah perkotaan. Namun, penyakit gangguan seksual ini tidak bisa diprediksi sejak dini. “Ini terjadi  juga karena pola asuh orang tua yg terlalu keras atau otoriter,” paparnya.  Sehingga anak memendam perasaan dan tidak bisa menyalurkan perasaannya dengan tepat. 

Selain itu, juga disebabkan  pergaulan bebas yang dialami anak. Mereka salah pergaulan kemudian berujung pada hilangnya etika dan rasa malu. “Penyembuhannya harus oleh psikiater dan psikolog, karena ini bukan hanya gangguan psikologis, tapi juga gangguan biologis,” pungkasnya.

(jr/lin/gus/das/JPR)

Source link