“Kalau memang itu diketahui mempekerjakan anak, terlebih sebagai pemandu lagu, jelas melanggar aturan,” tegas Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kediri Ulul Hadi.

Pernyataan keras Hadi tersebut terkait dengan penemuan dalam razia yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Kediri beberapa waktu terakhir. Dalam operasi gabungan bersama dengan Polri dan TNI tersebut, tim sempat menemukan seorang anak di bawah umur. Anak tersebut diduga dipekerjakan sebagai pemandu lagu, atau yang biasa disebut purel. Tepatnya dalam operasi keempat, Minggu (15/4). Lokasinya di Cafe Maya.

Dari sisi ketenagakerjaan, mempekerjakan anak di bawah umur sudah suatu pelanggaran. Apalagi bila sampai menjurus pada praktik prostitusi, hukumannya bisa lebih berat. Sang pemilik usaha bahkan sudah bisa dikenakan perkara pidana. Karena sudah melanggar UU Perlindungan Anak.

“(Aturan) harus ditegakkan. Dan hukumannya juga harus berat. Ini berlaku untuk semua tempat karaoke di Kota Kediri yang menyediakan anak di bawah umur untuk menjadi purel,” ujar Hadi.

Upaya yang dilakukan tak sekadar pada anak yang terlibat saja. Karena selama ini setelah terazia anak tersebut diserahkan ke dinas terkait untuk dilakukan pembinaan. Seharusnya, tempat karaokenya juga harus ditindak. Hal itu dilakukan agar bisa memunculkan efek jera bagi tempat hiburan tersebut. Dan tidak lagi melibatkan anak dibawah umur untuk usaha dunia malam tersebut.

Dia mengakui, selama ini karaoke-karaoke di Kota Kediri biasanya tidak mencatatkan purel sebagai karyawannya. Karena purel-purel tersebut  datang sendiri untuk menawarkan jasa kepada pengunjung karaoke. Atau, justru pelanggan tempat karaoke itu yang membawa sendiri sang purel.

Namun demikian, hal itu tetaplah suatu pelanggaran. Khususnya bila yang datang atau dibawa oleh pelanggan itu purel di bawah umur.

“Harusnya sebagai pemilik tempat karaoke mereka tahu bahwa itu anak di bawah umur. Sehingga, setidaknya, dia bisa menolaknya,” ujar Hadi.

Hadi berharap aparat penegak hukum tegas dalam menindak pihak-pihak yang mengeksploitasi anak. Sehingga mampu menghindari adanya tempat hiburan malam yang mempekerjakan anak di bawah umur. Terlebih bila anak-anak itu dipekerjakan sebagai purel. Karena pekerjaan purel mendekatkan sang anak pada dunia prostitusi. Dan kental dengan pelanggaran trafficking.

“Kalau tidak ditindak tegas mana ada efek jeranya? Dan ini akan subur tumbuh di Kota Kediri kalau terus dibiarkan,” tegas Hadi mengingatkan.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link