Tradisi Lebaran seperti saling silaturahmi di Kampung Njobo pun setiap tahun selalu dilestarikan. Tak hanya sekadar salam-salaman di masjid dan bertegur sapa saja. Namun mendatangi rumah satu per satu sambil jagongan dan mencicipi jajanan pun wajib dilakukan kampung ini.

Padahal di kampung lain, tradisi jagongan sambil cicip-cicip jajan ini sudah mulai memudar. Tak ayal setelah hari kedua Lebaran, rumah-rumah sudah ditutup. Dan jajan masih penuh setoples karena tidak ada yang datang untuk jagongan.

Berbeda dengan di rumah-rumah di Kampung Njobo ini, hari keempat Lebaran pun masih ramai. Seperti rumah Paijo ini yang sudah gonta-ganti toples karena jajannya kerap habis. Maklum, selain temannya banyak kalau datang ke rumah tak hanya satu dua jam saja. Kadang malah ada yang menginap juga.

“Alhamdulillah sudah Lebaran lagi, padahal rasanya baru kemarin lho Lebarannya,” ungkap Paimin saat berkunjung ke rumah Paijo.

“Iya Min, Padahal baru kemarin berita bom-boman teroris sebelum puasa santer. Eh ternyata sudah sebulan kita ngelakuin puasa. Walau sudah satu bulan lalu bom-boman teroris terjadinya, ngerinya sek terasa ae,” ujar Paijo sambil makan kacang asin di toples.

Begitu pula, Paimin yang sedari tadi makan opak gambir pun tidak selesai-selesai. Malahan toplesnya sampai didekep sendiri di depannya. Namun saat Paijo bahas ngerinya bom-bomannya teroris, Paimin sambil masih kecap-kecap opak gambir di mulutnya malah nimpali dengan pertanyaan candaan.

“Tebak Jo, bom-boman apa yang malah bikin orang seneng?” tanya Paimin.

Sambil mata menerawang ke atas, Paijo pun berpikir kuat. Hingga akhirnya… “Gak tahu Min, aneh-aneh saja kamu. Mesti tidak ada, wong di mana-mana bom itu mengerikan.”

“Wah sedikit dangkal utekmu Jo. Bom yang malah bikin orang seneng yo Bom-boman duwit. Kayak habis ini kita juga akan dapat sebelum coblosan nanti,” terang Paimin sambil cekakakan.

Memang coblosan serentak akan segera berlangsung, tidak terkecuali di Kampung Njobo ini yang sebentar lagi akan ikut memilih wali kota dan juga gubernurnya. Paimin pun menerangkan kepada Paijo, para timses calon wali kota dan gubernur juga sudah mulai bergerilya. Warga luar Kampung Njobo pun sudah mulai dapat duwit hasil bom-boman itu.

“Kalau nanti coblosan kamu pilih siapa Min?”

“Jelas yang ngasih bom paling besar lah Jo. Lumayan bisa untuk ngopi sak wulan,” ujar Paimin.

“Emang biasanya dibom berapa satu orang Min?”

“Yo macem-macem, kadang ada yang dapat Rp 100 ribu kadang ada Rp 50 ribu. Malahan yang bisa ngumpulin orang banyak untuk bisa dibom bareng-bareng lumayan. Bisa dapat Rp 500 ribu sekali bom. Enak to Jo,”

“La kalau setelah dibom pasti milih orang itu?”

“Yo tidak mesti, kayak saya ya Jo. Target saya semua calon yang beri bom akan saya terima duwitnya. Yang paling besar kasih bomlah yang saya pilih, gampang to?” ungkap Paimin yang terus setia memegangi toples opak gambir.

Saat asyik ngobrol, datanglah orang bertopi dan berkacamata hitam. Tanpa permisi. Dan Paijo pun tidak kenal. Pria bertubuh tegap itu tetap saja merangsek masuk rumahnya. Dengan tas selempang yang dibawanya. Diapun ikut nimbrung di kursi dekat Paimin.

Paimin ikut kaget. Terlebih tiba-tiba pria misterius itu mengeluarkan sejumlah uang warna merah bergambar bapak proklamator dari tasnya.

“Wes kang, ojo kakean takok. Terima saja ini, pokoknya pas nyoblos nanti wes jelaskan milih sopo?” ujar pria misterius itu sambil mengeluarkan uang beserta selebaran salah satu calon wali kota.

“Wohh… dibom ini aku? Woke siap Mas. Jangan lupa temanku ini juga dikasih lho Mas,” ujar Paimin sambil menerima dua lembar uang warna merah itu.

Setelah memberikan uang dan selebaran, pria misterius itu hengkang dari rumah Paijo tanpa permisi. Juga tanpa berkenalan dengan si empunya rumah itu.

“Wes Jo, satu untukku satu untukmu,” terang Paimin sambil menyodorkan selembar uang ke Paijo.

“Ogah aku Min, takut aku. Apalagi di berita yang aku baca di koran, si penerima dan si pemberi sama-sama iso dipenjara Min. Emoh aku Min. Itu namanya money politics,” sambil tangan Paijo menunjukkan isyarat tidak mau.

“wooo gayamu keminggris Jo, rezeki kok ditolak,” gaya Paimin sambil memasukkan dua lembar uang itu ke saku bajunya.

“Gini lho Min, belum jadi saja sudah main suap, lantas nanti kalau sudah jadi pasti tambah ngeri nyuapnya. Kalau dipikir-pikir. Bom-boman itu uang dari mana? Paling-paling ngutang. Terus kalau utang pasti nanti harus dibayar. Terus piye carane bayar? Yo jelas pas nanti terpilih jadi wali kota  akan garong sini garong sana. Ujung-ujunge korupsi Min!!!” ujar Paijo Lantang.

Merasa diceramahi Paijo pun meminta Paimin segera pulang saja dari rumahnya. Terlebih Paijo juga mengaku setelah ini akan ada tamu lain yang sudah dari sebelum Lebaran dia tunggu-tunggu.

Setelah Paimin pergi, Paijo pun mulai menata kembali toples-toples yang berserakan karena ulah Paimin yang terus mengambili jajan. Tak lupa Paijo juga memberesi meja makannya. Mengeluarkan opor ayam hingga lontong dan ketupat, khas Lebaran. Lepet buatan istrinya yang terkenal enak tak lupa dihidangkan di meja makan.

“Akhirnya sampean datang juga,” sapa Paijo sambil menyilahkan tamunya masuk ke rumahnya.

Tamu baru inipun langsung dibawa Paijo masuk ruang makan untuk makan ketupat itu. Sambil makan bersama itu, Paijo pun membuka omongan.

“Jadinya, bagian saya ngebom berapa orang Mas? Tapi pokoknya jangan lupa bagian saya yang deal kemarin lho Mas?” ungkap Paijo sambil cengengesan. Kemudian dia pun menerima gebokkan uang dari timses lawan yang ada di lembaran brosur milik Paimin tadi. (*)

(rk/fiz/die/JPR)

Source link