Kemarin, Jawa Pos Radar Semeru sempat melihat langsung sejumlah toko di sepanjang Jalan Kyai Ghazali yang menjual beragam barang berwarna merah muda atau pink. Salah satunya toko milik Rahwati. Dia menuturkan, atribut valentine sudah ada di tokonya sejak lima hari terakhir. Harganya bervariasi, dari Rp 7.500 hingga Rp 40 ribu. “Ada bunga dan boneka. Yang paling laris boneka,” ujarnya. 

Perayaan yang konon cikal-bakalnya berasal dari tradisi Romawi ini begitu identik di kalangan anak muda. Ada macam-macam perspektif pada momentum yang jatuh tiap 14 Februari ini. 

Sebagian ada yang cenderung menghindari karena tidak sesuai kearifan lokal. Bahkan, ada yang menganggap 14 Februari bukanlah hari spesial. Nikmatussoliha, 17, siswi kelas 2 pada salah satu SMA di Lumajang mengaku, tanggal 14 Februari menjadi hari yang biasa baginya. “Kadang saya malah nggak ngeh kalau 14 Februari itu Hari Valentine,” ucapnya.

Di sisi lain, ada pula yang menganggap valentine sebagai hari spesial. Hari saling bertukar bingkisan kepada kawan dekat. Salah satunya Sahrul Amin, 17. Pelajar kelas 2 salah satu SMK di Lumajang ini mengaku beberapa kali merayakan Valentine bersama kawan sekelasnya. “Biasanya rembukan dulu mau ngapain. Kadang tukar-tukaran cokelat, kadang pergi ke suatu tempat. Suatu ketika saya pernah jalan-jalan ke Malang untuk ber-Valentine. Sampai satu hari bolos sekolah,” pungkasnya.

(jr/was/aro/das/JPR)

Source link