”Melihat penemuan-penemuan di waktu pemugaran dari tahun 1996 sampai 2001, belum ada penemuan yang terkait dengan Sumur Upas. Baik terowongan atau semacamnya. Ini seperti cerita rakyat,” tandasnya. ”Karena sampai sekarang pemugaran sendiri belum tuntas,” lanjutnya.

Dia menambahkan, memang dari pihak BPCB sendiri sampai saat ini belum meniliti secara mendalam. Menyusul, sumur tersebut sudah lebih dulu dikeramatkan oleh warga dalam istilah Jawa berubah menjadi punden. ”Sehingga, untuk menguak kebenaran cerita Sumur Upas masih sulit dilakukan. Pasalnya, luas situs ini hampir seluas Kompleks Kedaton. Di mana, bagian-bagian lainnya sudah tertutup oleh rumah-rumah dan lahan perkebunan warga,” pungkas Sumariyanto.

Kepala Unit Pemugaran balai Pelestarian Cagar Budaya Jatim, Kuswanto menambahkan, selama proses ekskavasi dilakukan pihaknya memang belum pernah menemukan ada empat terowongan menuju empat penjuru arah berbeda. ”Karena fungsi sebenarnya dari unit pemugaran, yakni untuk melestarikan cagar budaya yang ada,” tandasnya.

Dia menjelaskan, cagar budaya adalah hasil kebudayaan berupa meterial, bukan berupa cerita rakyat. Unit pemugaran sendiri bekerja berdasarkan data yang ada, dan pelaksanaaan pemugaran pun juga berdasarkan data sebuah materi. ”Yang jelas selama penggalian sampai saat ini belum ditemukan terowongan itu,” ujarnya.

Sebenarnya, selama ini, proses pemugaran yang pernah ada tersebut baru sebatas pengupasan tanah untuk membuka sebuah situs. ”Untuk menanggapi cerita rakyat tersebut, dari pihak BPCB tidak bisa membenarkan dan menyalahkan. Namun, kami tetap menampilkan situs yang ada,” pungkas Kuswanto. (muhammad ihwan)

(mj/ris/ris/JPR)

Source link