Jenis makanan yang mengandung zat berbahaya tersebut justru merupakan jenis makanan yang banyak dikonsumsi sehari-hari. Di antaranya lanting merah, selondok dan kue mangkuk merah. BPOM DIJ menemukan kerupuk mengandung rhodamin B.

Kepala BPOM DIJ Sandara MP Linthin menjelaskan, makanan tersebut banyak diedarkan para pedagang baru. Rata-rata, mereka mendapatkan makan tersebut dari daerah Jawa Tengah seperti Magelang, Solo, Klaten dan Purworejo.Temuan makanan mengandung zat berbahaya tersebut berdasarkan pantauan di lima pasar yakni, Pasar Argosari, Pasar Beringharjo, Pasar Godean, pasar Bantul, dan Pasar Wates. ”Kami kesulitan untuk menertibkan produsennya, karena makanan tersebut diproduksi secara rumahan,” kata Sandara dalam keteranganya di Ruang Humas Dinas Komunukasi dan Informasi Kompleks Kepatihan Jogja Jumat (11/5).

Dijelakan pemeriksaan dilakukan terhadap 70 sampel. Dari jumlah itu, 20 sampel (29 persen) mengandung bahan berbahaya . Dari  20 sampel yang mengandung bahan berbahaya, sebanyak 18 persen (90 persen) mengandung Rhodamin B dan dua sampel (10 persen) mengandung Boraks.

Hasil temuan tahun ini jika dibandingkan pada tahun lalu mengalami penurunan sebanyak 5 persen. Tahun lalu, dari 61 sampel yang diambil, 21 sampel mengandung bahan berbahaya, 19 sampel mengandung rhodamin dan dua sampel mengandung boraks.”Jika dikonsumsi dalam jangka panjang bisa berdampak pada penyakit berbahaya seperti kanker,” kataya.

Dia mengimbau kepada masyarakat, agar cerdas memilih dan tetap waspada terhadap peredaran produk pangan olahan tidak memenuhi ketentuan. Cara pengecekan bila dilihat melalui kemasan, label, izin edar dan kedaluwarsa.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ menyatakan pantauan komoditas kebutuhan pokok menjelang Ramadan dipastikan aman. Sejumlah barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng dan gula stabilitas harga bisa cukup terjaga.

Sementara itu sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan di atas 10 persen ada pada bawang merah, telur, daging ayam dan beberapa jenis cabai.

Anggota TPID DIJ Budi Hanoto menyebut keniakan harga telur kerap terjadi menjelang puasa dan lebaran. ”Kebutuhannya saat itu meningkat, sementara untuk telur masiih bergantung dari luar daerah,” katanya. 

(rj/ong/ong/JPR)

Source link