TAK ada rotan, akar pun jadi. Tak bisa menonton langsung Piala Dunia di Rusia, nonton bareng (nobar) di kampung pun tak kalah asyik. Apalagi sambil kendurian. ”Top, pokoknya,” begitu kata Umam dan Bayu.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

MATAHARI memang sudah condong ke barat sekitar pukul 15.00 Kamis (5/7). Namun, sinar matahari terasa masih cukup terik. Maklum, langit di atas bibir pantai Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi cukup cerah sore itu.

Dalam kondisi cuaca cukup panas seperti itu, empat remaja tampak setengah berendam di kawasan muara sungai. Aksi mereka terlihat dengan jelas dari jembatan kayu yang merupakan satu-satunya akses menuju lokasi yang di-branding dengan label wisata syariah tersebut.

Cukup lama empat remaja berada di muara tersebut. Beberapa kali saja mereka beringsut. Bergeser dari satu titik ke titik yang lain. Setelah bergeser, mereka berempat kembali jongkok hingga air membasahi tubuh mereka setinggi dada.

Rupanya mereka sedang mencari kijing. Kijing merupakan makhluk hidup sejenis kerang yang berukuran lebih besar dari remis atau kepah, namun lebih kecil dari kerang.

Awalnya, saya menduga empat remaja itu merupakan warga sekitar dan mencari kijing untuk dijual. Maklum, nyaris setiap pagi ada warga setempat, baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja mencari kijing di tempat itu.

Namun dugaan saya salah. Empat remaja yang saya jumpai kali ini adalah ”pendatang”. Mereka datang dari kawasan tempat tinggalnya di wilayah Singonegaran yang punya tujuan khusus untuk mencari kijing di tempat itu.

Umam Basir, 15, satu di antara empat remaja itu mengaku, dirinya dan tiga rekannya datang ke Pulau Santen untuk mencari kijing. Dari Singonegaran, mereka berangkat ke Pulau Santen dan menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer (km) dengan mengendarai dua sepeda motor. ”Iseng-iseng cari kijing untuk mengisi waktu libur sekolah, Mas,” ujarnya.

Umam mengaku, dirinya cukup sering mencari kijing di kawasan muara Pulau Santen. Kijing yang mereka dapat tidak dijual, melainkan untuk masak-masakan bersama teman-temannya. ”Begitu pula hari ini (Kamis). Hasil cari kijing hari ini akan kami kumpulkan. Dibuat masak-masakan besok (Jumat) malam sembari nobar piala dunia,” kata siswa kelas 8 SMPN 4 Banyuwangi tersebut.

Menurut Umam, nobar piala dunia akan terasa spesial jika dibarengi masak-masakan. Selain bisa menyaksikan penampilan pemain dan tim kesayangan, nobar sembari makan bersama bisa meningkatkan keakraban. ”Apalagi lauknya kijing yang kami kumpulkan berempat,” kata dia.

Sementara itu, Vebian Bayu, 14, remaja yang lain mengatakan, cara mencari kijing cukup mudah. Cukup berbekal seser atau serok. ”Kita tinggal mengeduk pasir di dasar sungai. Lalu diayak atau digoyang-goyangkan di dalam air. Setelah pasirnya habis, tinggal diambil kerangnya pakai tangan,” tuturnya.

Senada dengan Umam, nobar piala dunia lebih mengasyikkan dibandingkan menonton sendirian. ”Apalagi sambil makan-makan. Pasti lebih seru,” pungkasnya. (aif/c1)

Source link