GULUNGAN kain merah jenis cotton combed 20-S digelar Arif Wibowo di meja sederhana selebar dua meter di rumahnya Jalan Rumpuk, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. 

Tangan kirinya menahan gelaran kain, tangan kanannya cekatan meraih penggaris di kolong meja. Dia mulai memotong kain dengan gunting setelah memberi tanda di ukuran yang dikehendakinya. 

Dalam proses ini, konsentrasi Arif Wibowo tak boleh diganggu. Selesai tahap ini, Arif mengambil campuran warna dari tinta sablon jenis rubber. Arif harus mempertimbangkan desain yang telah dia buat sebelumnya dengan pilihan tinta untuk menentukan detail warna. 

Dia juga harus memperhatikan jenis serta warna kain. Proses penyablonan makan waktu setengah jam sebelum dijemur matahari. Terakhir, dia menyerahkan hasil sablon ke pekerjanya yang notabene saudaranya sendiri itu untuk dijahit. 

‘’Tidak ada kesulitan dalam proses produksi. Kendalanya biasanya pada kiriman bahan yang sering telat,’’ urainya.

Arif bukanlah satu-satunya pengusaha cetak sablon di Kota Reyog. Di tengah persaingan bisnis yang ketat, dia dituntut menjaga kualitas. 

Namun, lebih penting lagi adalah menjaga kepercayaan. Prinsip itulah yang membuat roda bisnis yang diputar Arif melancar hingga negeri luar. 

‘’Intinya gelem srawung (mau kumpul) sama orang. Nambah teman, nambah rejeki,’’ tuturnya.

Semula, suami Pungki Septiasari itu tidak kepikiran usahanya bakal semaju ini. Apalagi saat dia memberanikan diri keluar pekerjaan dari salah satu perusahaan swasta bidang konveksi lima tahun silam. 

Kemudian merintis usaha di bidang konveksi berbekal alat seadanya. Di awal, Arif kerap dicibir dan diremehkan. ‘’Ada saja yang ngejek sampai menghina,’’ ungkapnya.

Sempat pula Arif jatuh pesimistis. Namun, semangatnya bangkit kembali setelah mendapat motivasi dari sahabat terdekatnya. Segala pandangan miring dibungkam dengan keberhasilan usaha. 

Pengalaman 15 tahun bekerja di tempat konveksi menjadi senjata utama. Pun, setiap proses dikerjakan sendiri mulai pemotongan kain, penyablonan, hingga menjahit. Itu sukses memangkas biaya produksi. 

‘’Lebih murah karena saya kerjakan sendiri dan sekarang dibantu keluarga,’’ sambung ayah dua anak itu.

Sejak awal, Arif tak semata mengejar untung. Bisnis tetap diposisikan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi keempat saudaranya. 

Dia masih ingat, alas meja yang digunakannya memotong kain dahulu hanyalah meja di ruang tamu. Setelah usahanya berkembang, masing-masing saudaranya memegang satu tahapan proses produksi mulai pemotongan hingga finishing. 

Namun, untuk desain dan racikan tinta sablon, Arif langsung turun tangan. ‘’Sekarang enggak ada lagi yang nganggur di rumah,’’ tukas anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Selain maniak detail, Arif jeli menangkap peluang. Usahanya yang semula sukses diapresiasi pasar dalam negeri perlahan terhubung ke luar negeri. 

Dengan menyasar tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Kabupaten Ponorogo yang notabene menduduki peringkat kedua buruh migran terbanyak se-Jatim. Dari sanalah, kaus produksinya memasuki pasar Asia Tenggara seperti Malaysia, Taiwan, dan Hong Kong. 

Dalam sebulan omzetnya mencapai 22 juta dan berhasil meraup keuntungan bersih hingga 15 juta per bulan. Terakhir, dia mendapat orderan seribu kaus dari Taiwan dengan total nilai transaksi Rp 85 juta. 

Kini dia sedang menerima orderan 4 ribu kaus dari luar daerah. ‘’Kalau ke luar negeri, biaya pengiriman mahal. Sekali kirim kadang mencapai Rp 30 juta. Tapi langsung dibayar tunai meski baru negosiasi,’’ pungkasnya. ***

(mn/jpr/sib/JPR)