Leo sapaan Leonardus Simarmata menyatakan, memang keberadaan garam di pasaran selama ini mendadak sulit ditemui. Sehingga, hal itu mendorong kepolisian mengetahui lebih dalam guna memastikan penyebab kelangkaan. Salah satunya dengan melakukan pengecekan ke sejumlah gudang penyimpanan garam. Dia menjelaskan, dalam sidak di gudang UD Tani, pihaknya sempat menemukan kejanggalan.

Atas kejanggalan itu polisi kemudian mengamankan sampel garam. Meliputi, satu bungkus garam Australia, satu bungkus plastik besar berisi garam halus, dan kemasan garam briket beryodium merek Ayo Sekolah dengan nomor registrasi 0365626027.

Satu karung limbah hasil produksi garam dalam bentuk sampah plastik dan garam tidak laik konsumsi juga diamankan. ’’Satu bungkus plastik besar berisi garam halus untuk bahan pupuk kami bawa sebagai barang bukti,’’ tuturnya. Selain itu, polisi mengamankan pemilik gudang untuk dimintai keterangan. ’’Pemiliknya kami amankan untuk dimintai keterngan,’’ katanya.

Dia mengaku, dari temuan ini polisi akan terus mengembangkan. Salah satunya menelusuri izin pembuatan pupuk berbahan garam yang dijalani Sentot. Meski Sentot sendiri bisa menunjukkan Surat Izin Perdagangan Kecil (SIUP) dan NPWP. ’’Dari temuan itu, menuntut kami harus medalami tanda daftar izin industri (TDI) dan izin lainnya,’’ bebernya.

Tidak puas dengan temuan itu, petugas lantas mengalihkan ke gudang milik Mbun, di Jalan Raya Jasem Nomor 48, Kecamatan Ngoro. Namun, di gudang tua ini tidak ditemukan pemilik maupun pekerja. Polisi sekadar menemui penjaga gudang. ”Kami akan tetap menindaklajuti kemungkinan jika ada penyalahgunaan izin produksi,” pungkas Leo.

(mj/ori/ris/JPR)

Source link