Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Gede Asrama kemarin mengatakan, kegiatan tersebut dalam rangka menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 524.3/9811/KKPP/Disnakkeswan tentang larangan menjual daging anjing. Dengan demikian, pihaknya menyosialisasikan larangan tersebut kepada masyarakat. “Sosialiasi yang kami lakukan bersama Satpol PP ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, daging anjing bukan merupakan bahan makanan hewani,” ungkapnya.

Dikatakannya, sosialisasi gencar dilakukan sejak Selasa (9/1) lalu. Sosialisasi pada Kamis (18/1) dilakukan di kawasan Dalung, Kecamatan Kuta Utara. “Hari ini (kemarin) yang kami sasar pedagang di wilayah seputaran Dalung, Kuta Utara,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asrama menerangkan, karena masih berbentuk sosialiasi, pihaknya lebih mengedepankan pembinaan kepada para pedagang. “Karena merupakan sosialiasi, jadi kami tidak ambil tindakan. Tapi bila setelah sosialisasi ini masih ada yang menjual daging anjing, maka kami akan ambil tindakan,” terangnya. Berkenaan dengan sosialisasi tersebut, pihaknya berharap masyarakat tidak lagi menjual, termasuk mengonsumsi daging anjing.

Sejalan dengan Asrama, Kepala Satpol PP Kabupaten Badung, IGAK Suryanegara menyatakan, pihaknya juga ikut terjun melakukan sosialisasi. Sosialisasi dilakukan secara bertahap ke beberapa wilayah yang diketahui terdapat penjual daging anjing. “Kalau tidak salah hanya di Kecamatan Petang saja yang tidak ada perdagangan daging anjing,” ujarnya.

Berkenaan dengan hal itu, Suryanegara berharap, pascasosialiasi dan pembinaan yang dilakukan, masyarakat tidak lagi memperdagangkan daging anjing. Pasalnya, sesuai SE Gubernur Bali, daging anjing bukan merupakan bahan makanan asal hewani. “Kami turun hari ini bersama Dinas Pertanian dan Pangan ke kawasan Dalung. Sementara untuk besok (hari ini) kami rencana sasar wilayah Kecamatan Abiansemal,” tandasnya. 

(bx/adi/yes/JPR)

Source link