Ia ditemukan di lereng gunung, Minggu (8/7) sekitar pukul 04.00 Wita. Saat itu dia sedang istirahat dengan membangun tenda di lereng gunung wilayah Dusun Nangka, Desa Buana Giri.

Kapolsek Bebandem AKP AA Ngurah Agung menuturkan, wisatawan tersebut diketahui naik gunung oleh masyarakat berawal dari  lampu senternya terlihat di lereng gunung. Setelah ditelusuri warga, ternyata ditemukan sepeda motor Vario DK 3597 FT di seputaran Dusun Nangka. Sepeda motor milik wisatawan pun diamankan Polsek Bebandem. Sedangkan sejumlah warga mendaki, mengikuti arah lampu senter. “Ditemukan wisatawan sedang istirahat, bikin tenda di lereng gunung. Akhirnya dibawa ke Polsek Bebandem,” jelas Ngurah Agung kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Kepada polisi, wisatawan yang tidak fasih bahasa Inggris itu mengaku tidak tahu bahwa Gunung Agung status Siaga, yang zona perkiraan bahayanya sampai empat  kilometer dari puncak kawah gunung. Wisatawan yang diketahui berada di Bali sejak 25 Juni 2018 itu naik gunung karena ingin mencari ketenangan dengan meditasi.

“Dia belum sempat ke puncak, baru di pertengahan,” terang mantan kapolsek Sedemen itu, seraya menyebutkan selama di Bali, wisatawan tersebut menginap di hotel kawasan Kuta, Badung.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Pasemetonan Jagabaya (Pasebaya) Gunung  Agung I Gede Pawana mengatakan, wisatawan nekat mendaki gunung dengan alasan tidak tahu status  Gunung Agung di level III. Sebab, promosi pariwisata yang sampai ke negaranya, disebutkan bahwa Gunung Agung aman. “Karena ada promosi pariwisata begitu, jadinya dia naik,” ujar Pawana.

Sementara itu, siswa  mulai masuk sekolah Senin (9/7) ini. Siswa Karangasem yang berada di pengungsian diberikan keringanan masuk sekolah di sekolah paling dekat dengan posko pengungsian. Khususnya siswa sekolah dasar (SD) yang paling tekenda dampak eruspi. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem I Gusti Ngurah Kartika, Minggu (8/7) kemarin.

Pemerintah memberikan kebijakan seperti itu supaya anak-anak yang berada di pengungsian tidak putus sekolah atau repot kembali kampungnya hanya untuk menempuh pendidikan. Kartika mengaku sudah berkoordinasi dengan masing-masing Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan agar mensosialisasikan hal itu.  

“Tapi kami tidak ada menutup  atau meliburkan sekolah di daerah yang warganya banyak mengungsi,”  ujarnya. Artinya, lanjut dia, pegawai, termasuk guru tetap harus masuk kerja di sekolah yang warganya banyak pengungsi. Pemerintah tidak bisa meliburkan hanya karena warga sekitarnya banyak mengungsi. Sebab, berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), zona perkiraan bahaya berada dalam radius empat kilometer dari puncak kawah Gunung Agung.

Tidak ada pemukiman penduduk dalam radius itu. Warga di luar radius itu memilih mengungsi lantaran khawatir terjadi erupsi yang dampaknya meluas melewati empat kilometer dari puncak kawah gunung tertinggi di Bali itu. Itu pun tidak semua warga mengungsi. Sehingga sekolah tetap beroperasi normal. “Anak-anak yang masih berada di kampungnya silahkan sekolah di sekolah asal. Mereka yang mengungsi silahkan di sekolah dekat posko. Ingat, guru harus tetap mengajar di sekolah asal,” tegas Kartika.

Hanya saja, Kartika tak bisa merinci ketika disinggung soal sekolah maupun siswa yang terkena dampak erupsi. “Berapa ya, kalau muridnya besok (Senin hari ini, Red) baru ketahuan. Kan didata di sekolah masing-masing maupun sekolah dekat pengungsian,” tandas Kartika.

Seperti diketahui, Gunung Agung kembali sering erupsi. Kemarin pun gunung tersebut sempat erupsi, sehingga bikin masyarakat di lereng takut dan akhinya mengungsi. Data yang didapat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem jumlah pengungsi hingga pukul 18.00 Wita, tembus 4.415 jiwa. Kepala Pelaksana BPBD Karangasem IB Ketut Arimbawa menyebut masih banyak warga belum berani pulang. Tak sedikit yang paginya pulang beraktivitas, malamnya tidur di pengungsian. 

(bx/wan/yes/JPR)

Source link