DENGAN bantuan teknologi sensor Kinect yang menggunakan sensor inframerah, Yedija Prima Putra mencoba mengembangkan game edukasi dengan genre mini adventure. Seperti diketahui, teknologi sensor Kinect biasa digunakan dalam konsol game yang tengah dikembangkan oleh Microsoft, yakni Xbox.

Pria yang akrab disapa Prima ini menjelaskan, game yang dikembangkannya ini memiliki edukasi yang bersegmen pada anak-anak. Dalam game ciptaannya, pemain dalam game akan menjawab pertanyaan berupa sistem operasi perhitungan mulai dari perkalian hingga pengurangan.

Yedija Prima Putra, mahasiswa Prodi Game Technology Unika Soegijapranata.
(DOKUMEN PRIBADI)

“Dengan bergerak menuju dua arah, ke kiri dan kanan, untuk menggerakkan kursor guna mendapatkan awan yang berisi angka jawaban pertanyaan tersebut,” terangnya.

Apabila nilai angka yang diperoleh dari awan masih kurang, maka pemain dapat bergerak mendapatkan awan lainnya hingga jawaban terpenuhi. Namun, jika angka yang diperoleh dari awan mengalami kelebihan dari jawaban seharusnya, maka akan mengurangi nyawa si pemain.

“Sejatinya, inspirasi saya dalam pengembangan game ini sendiri berawal dari Progdi Game Technology yang telah memiliki teknologi sensor Kinect. Khusus untuk game yang tengah saya kembangkan, saya punya misi agar belajar matematika terasa lebih menyenangkan. Di sisi lain, dapat melatih kemampuan motorik anak-anak sembari menyelesaikan soal,” jelas Prima.

Menurut dia, cara bermain menggunakan teknologi sensor Kinect cukup mudah, di mana alat Kinect tersebut diletakkan di depan layar, sang pemain pun berdiri pada jarak sekitar 2 meter dari posisi Kinect berada. Nantinya, Kinect dapat mendeteksi posisi pemain berada menggunakan sensor inframerah di mana Kinect akan memancarkan sinar inframerah ke segala titik, kemudian dikumpulkan dalam satu titik dan diolah menjadi bentuk 3 dimensi.

Selanjutnya, setelah terbentuk 3 dimensi, Kinect akan membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan. Pada penelitian sebelumnya, yang menggunakan sensor inframerah dengan proximity censor, sinar inframerah dipancarkan ke satu titik untuk mendeteksi gerakan, sehingga peserta akan bergerak maju dan mundur untuk menjalankan kursor.

“Selain mengembangkan game tersebut dengan tujuan edukasi, saya juga membandingkan penggunaan sensor inframerah dengan bantuan alat Kinect dan sensor ultrasonik untuk skripsi saya,” ujarnya.

Prima menjelaskan, pada sensor ultrasonik, dipantulkan gelombang suara yang mendeteksi jarak pemain pada satu titik, sehingga pemain akan bergerak maju dan mundur. Dalam skripsi yang dibuatnya, Prima mencoba membandingkan keduanya berdasar beberapa parameter, seperti jarak optimal, derajat horizontal (lebar persebaran titik yang dapat dideteksi), derajat vertikal, kemiringan benda, dan transparansi benda.

“Salah satu hasilnya, untuk sensor ultrasonik tidak dapat bekerja dalam posisi miring. Saya berharap perbandingan tersebut menghasilkan rekomendasi pemanfaatan sensor dalam pengembangan game edukasi di konsol,” tandas Prima. 

(sm/tsa/ida/JPR)