Namanya Pujasera Tradisional Semanggi. Supaya lebih mudah diingat, mereka menyebut warungnya dengan nama Putra Semanggi. Putra tak lain akronim dari pujasera tradisional. Sedangkan Semanggi, mengadopsi nama jembatan yang ada di sekitar wilayahnya.

Secara fisik, tak ada yang berbeda dengan tempat tongkrongan lain. Terlebih di sekitaran kampus. Pun demikian dengan sajian makanannya. Tidak jauh berbeda. Hanya saja, menu yang dijual beberapa ada yang tradisional. Mulai dari minuman, makanan ringan, hingga nasi jagung yang jadi andalannya.

Namun, di luar itu ada yang menarik di pujasera yang ada di tengah perkampungan RW 27 Kelurahan/Kecamatan Sumbersari tersebut. Semua pengelolanya warga setempat. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga remaja kampung, berbaur membangun amal usaha. Tentu, untuk kemandirian ekonomi warga setempat.

Sebelum dibangun pusat jajanan rakyat, tempat usaha itu tak lain bekas lapangan bulu tangkis. Namun, tidak pernah dimanfaatkan lagi, sehingga kotor dan tidak terawat. “Kemudian kita manfaatkan untuk pujasera,” tutur Ketua RT setempat, Ritop Sukoco.

Rencana pembuatan pujasera rupanya disambut donatur yang tak lain warga setempat. Dia menyanggupi pembiayaan pendirian bangunan pujasera. Namun, semangatnya tetap gotong royong. Sehingga, tak heran, tukang bangunannya pun tidak mereka bayar, karena bagian dari warganya.

Kompensasinya, mereka yang aktif ikut berpartisipasi mendirikan pujasera diperbolehkan menitipkan makanan dagangannya. Namun, tetap ada pembagian hasil. Meski persentasenya tidak banyak. Sebab, dari pembagian hasil tersebut, dana yang terhimpun digunakan lagi untuk operasional pujasera.

Ternyata bukan hanya selesai di sana. Pendapatan pujasera juga disiapkan untuk kas lingkungan. Agar ada support anggaran saat ada kegiatan di lingkungan mereka. Sehingga, seperti tujuan awal, warga di RW Pitulikur bisa benar-benar mandiri.

Supaya lebih kental dengan nuansa tradisional, pengelola memasang beberapa kata-kata kuno yang mengandung nilai filosofi tinggi. Seperti Jarkoni : Iso Ujar Ora Iso Ngelakoni (Bisa bicara, tapi tidak bisa melakukannya).

Beberapa bahasa yang dulunya lazim digunakan masyarakat juga dipasang di pujasera tersebut. Seperti Jedeng yang artinya toilet. Kata-kata kuno seperti itu sengaja dipasang, tak lain untuk melestarikan tradisi lawas. “Selain itu, untuk menyampaikan pesan moral,” ujar Ritop.

Pujasera itu tergolong masih “perawan”. Sebab, baru Minggu (13/5) malam resmi di buka. Namun yang pasti, meski memilih konsep tradisional, fasilitas seperti free Wifi juga tersedia untuk menyaingi tawaran warung lain yang jadi kompetitornya.

(jr/rul/hdi/das/JPR)

Source link