Informasi yang dikumpulkan Minggu (7/1) menyebutkan musibah tanah longsor terakhir terjadi sore kemarin di wilayah Banjar Tegallalang, Desa Tegallalang. Musibah ini berlangsung sekitar pukul 14.00 pada senderan sebuah tebing dengan tinggi sekitar 4 meter dan lebar 20 meter di belakang rumah I Wayan Karma, 42, warga setempat.

Disebutkan jika longsor ini bermula saat hujan mengguyur wilayah itu mulai pukul 13.00. Kala itu hujan pun turun dengan deras, yang juga disertai dengan angin kencang. Tak berselang lama, Karma yang melihat aliran air depan rumahnya semakin besar akhirnya keluar rumah dan berusaha membersihkan saluran air tersebut. Saat itulah atau sekitar pukul 14.00, pria ini dikagetkan dengan suara gemuruh yang cukup besar yang berasal dari belakang rumahnya. Setelah dicek langsung, suara tersebut ternyata bersumber dari longsor yang terjadi pada senderan semen yang terjadi di belakang rumahnya, dan tepat berada di depan Villa Kampung Café.

Selain menyeret senderan dan material tanah, longsoron juga turut menggerus bangunan semi permanen. Sedangkan limpahan material longsor yang berupa bebatuan, tanah, dan material bangunan langsung menutup akses jalan raya Tegallalang menuju Banjar Tangkup, Desa Kedisan. Tidak hanya itu. Material longsor juga membuat pagar tembok Villa Kampung Cafe jebol, serta menimpa beberapa kendaraan yang terparkir di halaman Villa Campung Café, seperti satu unit mobil APV, dan empat sepeda motor.

Selain Minggu sore, sepanjang Sabtu (6/1) sore hingga malam, sederet musibah tanah longsor juga terjadi di Gianyar. Seperti tanah longsor yang terjadi di Jalan Raya Ir Soekarno, Tampaksiring pada jam 14.00. Longsor yang disertai robohnya rumpun pohon bambu menutup akses jalan yang menjadi jalur utama pariwisata tersebut. Tak hanya itu. Satu unit mobil carry nopol DK 9673 milik I Wayan Geban, 40, serta satu unit sepeda motor Honda Scopy milik Ni kadek Febiyanti, 23, juga menjadi korban. Sedangkan pengemudinya hanya mengalami luka gores, lantaran terkena pohon bambu.

Masih di hari yang sama, longsor juga terjadi pada tebing setinggi puluhan meter pada tegalan pembatas karang rumah milik I Nyoman Setor Wiratmaja , 65,di Banjar Kedisan Kelod, Desa Kedisan pada Sabtu (6/1) dinihari sekitar jam 01.00. Akibat kejadian ini, tiga unit kandang babi ikut tergerus longsor, termasuk dua ekor induk Babi yang mati tertimbun longsor.

Sedangkan pada Sabtu (6/1) sore sekitar jam 14.45 longsor giliran menerjang wilayah Kecamatan Gianyar, tepatnya di Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Candi Baru, Kelurahan Gianyar. Longsor menimpa rumah Putu Kandana, 56, warga setempat. Akibat kejadian material longsor langsung menimpa beberapa bangunan rumah korban, mulai dari bangunan bale dangin, bale delod, tiga unit sepeda motor, dan dua sepeda gayung.

Tak hanya dikepung tanah longsor, pada Sabtu (6/1) sore sebuah pohon tumbang juga terjadi di Gianyar. Kejadian ini berlangsung di Banjar Kelusa, Pejeng Kelod, pada jam 13.55. Pohon tumbang ini bahkan menutup badan jalan sehingga mengganggu lalulintas dan aktifitas warga, serta turut menimpa sanggah milik Jero Mangku Nyoman Tarki. Akibat kejadian itu, setidaknya tiga pelinggih mengalami kerusakan, seperti piasan, dan gedong yang mengalami rusak ringan, serta pelinggih taksu yang mengalami rusak berat.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Gianyar AA Gde Oka Digjaya mengakui jika dalam beberapa hari terakhir ada belasan musibah tanah longsor hingga pohon tumbang. Tapi seperti penegasannya, rangkaian kejadian itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa, kecuali kerugian material.

“Ya laporan sejak kemarin memang banyak ada kejadian. Sampai sore ini anggota masih di lapangan melakukan evakuasi,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dengan banyaknya kejadian tersebut, khususnya di wilayah Kecamatan Tegallalang, Tampaksiring, hingga Payangan, tak lepas dari daerah tersebut yang memang rawan musibah tanah longsor dan pohon tumbang. Karena kondisi wilayahnya yang berupa perbukitan, serta tanahnya yang labil. Oleh sebab itu, dia mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada selama cuaca ekstrem yang diperkirakan bakal berlangsung sampai Maret mendatang.

“Himbauan tetap kami sampaikan kepada masyarakat. Termasuk langkah antisipasinya, seperti kalau ada pohon yang memang rawan tumbang, segera dipangkas. Begitu juga saluran air supaya selalu diperhatikan. Termasuk para Perbekel juga harus aktif memberikan pemahaman kepada warganya. Karena selain proses evakuasi, edukasi pada masyarakat juga sangat penting,” katanya. 

(bx/wid/ima/yes/JPR)

Source link