Dari pantauan  Jawa Pos Radar Kudus, traffic light di Perempatan Sucen memang mati. Pengendara pun asal melintas. Padahal, pasca adanya gapura masuk kawasan Menara Kudus, pengendara dari arah selatan ke utara tidak bisa melihat kendaraan dari arah barat ke timur dan sebaliknya.

Miftahul, 22, mengatakan, saat melintas di Perempatan Sucen, dirinya tidak bisa melihat jelas kendaran yang hendak menyeberang. ”Saya tadi dari barat ke timur. Kendaraan yang mau menyeberang dari gapura tidak begitu kelihatan. Jadi, saya harus pelan-pelan,” ungkap pria asal Desa Sowan Lor, Kedung, Jepara, ini.

Dia menyayangkan traffic light di Perempatan Sucen mati. ”Kalau berfungsi malah bagus. Soalnya, jika ada pengendara ngebut atau tidak paham lokasi melihat ada rambu jadi pelan,” paparnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus Sam’ani Intakoris melalui Kepala Bidang Keselamatan Sarana dan Prasarana Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Sunyoto mengatakan, keberadaan traffic light di Perempatan Sucen, Kota, dikaji ulang. ”Traffic light itu (di Perempatan Sucen, Red) kami kaji ulang. Soalnya isyarat rambu-rambu banyak dilanggar,” katanya.

Dia melanjutkan, kerusakan nantinya diperbaiki. Nantinya akan difungsikan lagi. Namun, hanya yang warna kuning. Tujuannya sebagai lampu peringatan agar pengendara berhati-hati saat melintas.

Selain traffic light itu, pihaknya juga akan memperbaiki puluhan rambu peringatan lalu-lintas, penunjuk jalan, traffic light, dan delineator (patok pengaman) di sepanjang Jalan Pantura. Mulai dari Jembatan Tanggulangin batas Demak hingga batas Pati. Selain perbaikan, juga akan ada pengecatan rambu-rambu yang sudah kusam. ”Ada sekitar 50 rambu jalan di 35 persimpangan di Kudus yang akan dibenahi,” ujarnya.

Dia menambahkan, semua perbaikan rambu-rambu itu menggunakan dana pemeliharaan dari Dishub senilai Rp 500 juta. ”Pembenahan rambu penting untuk keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan,”  imbuhnya. 

(ks/ruq/lin/top/JPR)