Dari data yang dihimpun Dinas Perhubungan (Dishub), kelima jalan tersebut memiliki volume kendaraan yang paling tinggi. Jalan Letjend S Parman, tepatnya di bundaran Aloha adalah yang paling padat. Dalam satu jam, ada 3.702,6 kendaraan yang melintas.

Kepala Dishub Sidoarjo Asrofi mengatakan, letak Kota Delta yang strategis dengan sejumlah fasilitas publik yang tersedia membuat banyak masyarakat ingin tinggal di Sidoarjo. Pertumbuhan penduduk dan hunian itu berdampak pada kemacetan. “Setiap keluarga minimal punya satu kendaraan, banyak juga yang lebih,” ujarnya.

Selain itu, letak Sidoarjo yang menjadi perlintasan utama juga membuat volume kendaraan yang melintas semakin banyak. Pengendara dari Pasuruan yang menuju ke Surabaya pasti lewat Sidoarjo. Begitu juga yang dari arah Mojokerto ke Surabaya.

Asrofi mengaku, pihaknya sudah menyiapkan dua solusi untuk mengatasi kemacetan ini. Salah satunya adalah dengan mengajukan pembukaan gerbang tol baru di Sukodono, tepatnya di KM 22. Menurut dia, hal itu bisa mengurangi kepadatan kendaraan dari arah Sedati yang menuju ke Sidoarjo, tidak perlu melewati Jalan Raya Gedangan. “Cukup lurus ke arah Sukodono,” imbuhnya.

Solusi lainnya adalah meminta pemerintah pusat untuk menambah jalur flyover di atas tol. Ada enam flyover yang diusulkan pembangunannya. Yaitu di Jalan Taruna di ddesa Kedungturi, di Jalan raya Sukolegok Sukodono, Masangan Wetan Sudokono, Jumputrejo, Anggaswangi, dan Jalan Raya Sepande. (nis/jee) 

(sb/nis/rek/JPR)