Suasana desa sangat kental di Desa Bendiljati, Kecamatan Sumbergempol. Banyak pohon-pohon besar di sisi jalan. Dan rerumputan tumbuh segar di bawah pohon-pohon. Kiri dan kanan jalan terlihat gubuk-gubuk kandang kambing dan sapi. Warga desa ini tampaknya banyak yang menjadi peternak.

Setelah melewati jalan yang belum selesai dan berdebu. Tiba lah di sebuah rumah besar dan halaman luas. Ketika Koran ini mencari pemilik rumah ini datanglah seorang pria separo baya memakai kaus oblong dan bercelana pendek.

Pria tersebut adalah Nur Kholis. Dia mengatakan, kalau pekerjaannya adalah sebagai jasa kawinkan kambing. Seseorang peternak kambing yang menginginkan kambingnya memiliki peranakan bagus pasti datang meminta bantuan darinya. Dia akan mencarikan bibit unggul seperti konsumen inginkan.

“ Namun saya berbeda saya membawa kambing pejantan milik saya untuk saya bawa ke kambing betina di rumah pemesan. Dan pembuahan secara alami yaitu kambing dibiarkan kawin sendiri,” ungkap pria 52 tahun tersebut.

Menurut dia, sistem pengawinan kambing secara cara langsung ini mempunyai kelebihan dibanding sistem suntik. Pada sistem suntik sering terjadi kegagalan disebabkan sel sperma mati terlebih dahulu sebelum disuntikkan. Sebab disimpan terlebih dulu di tabung dalam jangka waktu cukup lama. Selain itu rahim kambing lebih kecil, sehingga jika petugas kurang ahli suntikan akan meleset dan tak terjadi pembuahan.

“ Saya rata-rata sehari ada sekitar enam kambing yang minta untuk dikawinkan. Saya tinggal bawa kambing-kambing saya menggunakan pikap ke rumah pemesan,” ujar suami Siti Fatimah tersebut.

Saat ini dia mengaku memiliki 13 ekor kambing pejantan. Kambing-kambing tersebut ada yang Peranakan Etawa (PE), kambing hitam putih, dan kambing Jawa merah. Pemilik tinggal memilih jenis kambing mana yang diinginkan dengan memesan melalui pesan singkat atau telepon. Sedangkan, harga pengawinan per ekor kambing Rp 50 – 60 ribu tergantung bibit kambing yang diminta. “ Tapi saat ini sudah agak sepi pesanan. Kalau dulu awal buka bisnis ini saya punya 40 kambing indukan unggul. Banyak pesanan hingga bisa buat membangun rumah dan beli mobil,” kata Ayah dari Khorul Rosidah.

Untuk perawatan kambing pejantan juga mudah. Sebab kambing-kambing ini hampir segala jenis makanan dimakan. Makanan utama kambing-kambing ini cukup diberi sentrat dicampur kulit ari dari selipan kacang dan kedelai. Sedangkan suplemen tambahannya adalah vitamin B kompleks dan mineral dari toko peternakan.

Sedangkan kesulitan yang kerap dia alami adalah kegagalan dari proses pengawinan. Kebanyakan disebabkan peternak tidak tahu kalau kambingnya  tidak sedang birai. Sehingga tak terjadi pembuahan karena sel telur tak dilepaskan. “ Biasanya saya suruh peternak memberi makan kambingnya dengan capar yang kecil-kecil dulu baru menghubungi saya. Biar kambing betinanya siap kawin,” jelas pria yang sebelumnya bekerja sebagai perajin mebel.

Saat ini dia melayani di wilayah hampir seluruh Tulungagung. Di antaranya area Rejotangan, Kalidawir, Campurdarat, dan yang terjauh di Ngantru. “ Dulu pernah sampai luar kota. Sekarang sudah  banyak yang ikut-ikut. Sebab usaha ini banyak untungnya karena jenisnya jasa tidak ada barang yang hilang,” katanya. (*) 

(rt/ona/dre/JPR)

Source link