Kepala Desa Sambiharjo, Kecamatan Paranggupito Parmo mengatakan, embung gompyong diresmikan pada Desember 2017 lalu. Dugaan Kebocoran diketahui warga beberapa waktu terakhir. Dia mengatakan, awalnya kedalaman air di embung tersebut setinggi perut orang dewasa. Namun, saat ini semakin menurun yakni sebetis orang dewasa.

”Indikasinya mungkin ada kebocoran, sehingga susutnya cepat,” kata Parmo, Senin (8/7).

Pihaknya memprediksi embung dengan luas 37 meter x 47 meter itu sebulan lagi akan habis. Saat itu, Pemdes Sambiharjo dan warga akan bersih-bersih. Sebab, sejak diresmikan embung tersebut belum pernah dibersihkan dasarnya. Jadi, masih banyak potongan-potongan kawat, besi dan kotoran.

Menurut Parmo, jika nantinya ada kebocoran pihaknya meminta rekanan untuk segera memperbaiki. Pihaknya berharap, embung tersebut masih dalam masa pemeliharaan pihak ketiga.

”Embung Gompyong saat ini dimanfaatkan oleh 3 Dusun di Desa Sambiharjo. Jika nanti benar bocor kami berharap pihak ketiga bisa langsung memperbaikinya,” katanya.

Menambahkan, Kepala Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito Heri Sutopo mengatakan, setidaknya di Desa Gendayakan juga ada tiga buah embung. Parahnya, embung-embung itu sudah lama tidak bisa dimanfaatkan karena rusak serta faktor alam.

”Embung-embung sudah lama tidak bisa dipakai. Ada embung Glagah, Mbakal, Bendungan,” kata Heri.

Dia mengatakan, rusaknya embung-embung itu sejak 1992 saat gempa. Lempeng yang bergeser memunculkan luweng, lalu kalau hujan tiba, air hilang dengan sendirinya. Saat ini, embung ada yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan olah raga. Seperti embung Mbakal, yang dimanfaatkan untuk lapangan sepak bola.

”Kami sudah mengajukan rehabilitasi, namun belum disetujui,” katanya.

(rs/kwl/fer/JPR)