Dalam sambutannya, Noor achmad mengungkapkan, bahwa Indonesia memiliki empat pilar kebangsaan. Yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuar Republik Indonesia, dan UUD 45. Berlandaskan empat pilar tersebut, Indonesia merupakan negara yang mengutamakan kesejahteraan. Pelaksana program untuk mencapai kesejahteraan masyarakat ada di Kementerian Sosial. Dalam hal ini melalui program keluarga harapan. Sebagai tangan panjang program tersebut terdapat pendamping PKH yang bertugas di lapangan.

“Pendamping PKH ini perlu penguatan. Perjuangan untuk penguatan ini biar anggota dewan yang melakukan. Memperkuat eksistensi agar diprioritaskan Kementerian Sosial sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K),” ujarnya.

Noor Achmad menambahkan, ketika ada penerimaan pegawai negeri di lingkungan Kementerian sosial, diharapakan Pendamping PKH lebih diutamakan. Ia juga berharap dengan pembekalan empat pilar kepada pendamping PKH semakin menunjang tugas sebagai tenaga teknis program PKH.

Menurutnya, Indonesia menjadi negara yang memiliki ekonomi stabil di tengah terpuruknya ekonomi global. Lima tahun ke depan menjadi negara dengan okonomi terkuat keempat di dunia. Indonesia memiliki banyak tantangan ke depan karena menjadi negara yang besar. Banyak pihak yang tidak senang dengan majunya bangsa Indonesia. Maka empat pilar ini harus didoktrin kepada masyarakat.  “Radikalisme yang muncul di negara ini ingin mengganggu keutuhan bangsa. Maka perlu diwaspadai. Ada pihak yang ingin memecah belah dari segi politik. Memecah belah dari sosial dan budaya. Juga ingin memecah belah dari aspek sosial ekonominya,” tuturnya.

Untuk menghadapi tantangan ke depan, kekuatan internal bangsa harus diperkuat. Empat pilar adalah bagian dari budaya yang hidup dalam nilai kebangsaan. Ketika ada goncangan apa pun bangsa ini tidak mempan. “Teror bom, aksi sparatisme, aksi anakisme, dan upaya memecah golongan agama akhir-akhir ini bisa diredam oleh masyarakat. Bukti bahwa empat pilar sudah mengakar,” tandasnya.

(ks/war/zen/top/JPR)