Kepala Cabdisdik Pemprov Wilayah Kabupaten Nganjuk Adi Prayitno mengatakan, enam sekolah yang rawan kekurangan murid adalah, SMAN 1 Sukomoro, SMAN 1 Pace, SMAN 1 Ngronggot.

Kemudian, SMAN 1 Loceret, SMAN 1 Berbek dan SMAN 1 Rejoso. “Perkiraan (kekurangan urid, Red) ini sesuai evaluasi yang kami lakukan,” kata Adi.

Lebih jauh Adi mengatakan, tahun lalu enam sekolah tersebut harus membuka gelombang dua. Tetapi, dari enam sekolah itu hanya SMAN 1 Berbek yang bisa memenuhi pagunya. Adapun lima sekolah lainnya tetap kekurangan siswa.

Bahkan, mayoritas kekurangannya sampai satu rombongan belajar (rombel). “Jadi, satu kelas tidak terisi,” ujar mantan Kepala SMAN 3 Nganjuk ini.

Rata-rata kekurangan siswa terjadi di jalur reguler. Sementara di jalur nonreguler atau offline, hanya jalur mitra warga yang minim peminatnya. Soal itu, Adi mengaku, peserta didik lebih mengutamakan jalur reguler. Sebab, mereka bisa memilih sekolah favoritnya. “Untuk jalur prestasi dan bidik misi terpenuhi,” terangnya.

Dengan penetapan enam sekolah rawan kekurangan murid itu, Adi meminta sekolah segera melakukan sosialisasi ke SMP dan MTs di Kabupaten Nganjuk. Jadi, mereka harus jemput bola ke sekolah-sekolah. “Tidak perlu menunggu PPBD dibuka. Mulai sekarang sudah bisa sosialisasi,” pintanya.

Dia mengatakan, sosialisasi harus dilakukan dengan cara yang kreatif dan inovatif. Selain itu, enam sekolah tersebut bisa mengenalkan sebagai SMAN rintisan double track (keterampilan tambahan) pada tahun ajaran 2018/2019. “Supaya siswa semakin berminat mendaftar,” kata guru asal Kecamatan Rejoso ini.

Data Jawa Pos Radar Nganjuk, di PPDB tahun ini, enam sekolah tersebut menyediakan jumlah pagu yang sama dengan tahun lalu.

Misalnya, SMAN 1 Ngronggot dengan pagu sebanyak 252 siswa. Jumlah tersebut dibagi ke dalam 7 rombel.

Pagu yang sama juga ada di SMAN 1 Pace, SMAN 1 Berbek dan SMAN 1 Loceret. Sementara SMAN 1 Sukomoro dan SMAN 1 Rejoso membuka pagu sebanyak 288 siswa dengan 8 rombel.

Berdasarkan pendataan cabdisdik, Adi mengatakan, jumlah lulusan SMP/MTs di Kabupaten Nganjuk sekitar 16 ribu siswa. Sedangkan lulusan SMA/SMK dan MA sekitar 14 ribu siswa. Jika mengacu data tersebut, seharusnya SMA/SMK dan MA bisa menampung jumlah lulusan SMP dan MTs. “Idealnya memang tidak akan kekurangan siswa,” kata Adi.

Karena itulah, cabdisdik berharap, semua lulusan SMP dan MTs melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sehingga, angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) di Kabupaten Nganjuk semakin meningkat.

(rk/baz/die/JPR)

Source link