Menurut Putu Suhardiasa, salah seorang warga yang juga pemilik homestay di Jungut Batu, sepinya wisatawan ini terjadi paska penutupan Bandara Ngurah Rai beberapa waktu lalu karena erupsi Gunung Agung. Dia menceritakan, jika kondisi normal jalanan di Jungut Batu khususnya Jalan Jungut Batu yang menuju Pantai Mahagiri selalu ramai wisatawan. Mereka ini pun merupakan turis yang datang menyeberang dari Bali, khususnya Sanur. “Tapi sekarang bisa dilihat sendiri. Jumlah wisatawan disini sangat sedikit. Saat siang hari pun tak banyak wisatawan yang lalu lalang dijalan. Karena penyeberangan saja tak banyak yang angkut wisatawan,” terangnya.

Dengan kondisi tersebut, pria lulusan pariwisata Unud ini pun harus memutar otak dalam mengurus usaha penginapan miliknya. Sebab dengan tidak adanya wisatawan yang menginap, dia tetap harus mengeluarkan biaya operasional, khususnya untuk dua karyawannya. “Ya pintar-pintar mengatur keuangan saja. Apalagi modal usaha juga dari pinjaman bank,” sambungan.

Hal senada disampaikan pemilik penginapan lainnya di Desa Jungut Batu, Ketut Gunawan. Pria ini menuturkan pasca erupsi Gunung Agung kunjungan wisatawan terjun bebas hingga 90 persen, dan menjadi yang terburuk dari sebelumnya. Padahal dengan musim wisatawan yang sepi (low session) pada periode saat ini, semakin bertambah sepi dengan aktivitas Gunung Agung.

Atas kondisi yang mereka alami, beberapa pemilik penginapan seperti dirinya akhirnya mulai memberikan diskon antara 15 hingga 20 persen. Ini dilakukan untuk menarik minat wisatawan. Tapi diakuinya pula, cara itu belum begitu ampuh, lantaran jumlah wisatawan yang datang memang sedikit. “Dulu itu kalau low session, setidaknya lima sampai enam kamar pasti ada yang isi. Sekarang bisa dilihat sendiri yang ada hanya satu dua kamar terisi. Istilahnya sekarang kami (pemilik penginapan) yang libur, kadang isi waktu dengan mancing,” ungkapnya.

Disinggung mengenai informasi yang menyebutkan, kalau sudah ada beberapa pemilik penginapan yang memilih mengistirahatkan para tenaga kerjanya, untuk mengurangi biaya operasional. Sambil membersihkan kolam renang di areal penginapannya ini mengaku memang mendengar informasi tersebut.

Terkait dengan hal itu, Sekretaris PHRI Klungkung I Wayan Sukadana juga tak menampik adanya informasi tersebut. Tapi dia menegaskan, hal itu bukanlah PHK (pemutusan hubungan kerja). Tapi sebatas mengistirahatkan pegawai. “Ini juga bukan pegawai tetap, tapi yang DW (daily worker atau kerja harian). Untuk jumlah kami belum tahu. Mereka bisa kembali bekerja kalau situasi sudah normal,” katanya.

Selain itu, langkah itu pun menjadi kebijakan langsung masing-masing pengusaha. Apalagi seperti ucapannya pola pengupahannya menggunakan sistem persentase. Sehingga ketika tingkat hunian sepi, secara otomatis upah yang didapatkan kecil. Ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan para pekerja itu memilih istirahat, dan sementara beralih ke sektor lain semisal pertanian yang hasilnya lebih bagus.

“Sampai saat ini saya belum dengar sampai seperti itu (tutup). Tapi nanti kami mungkin akan bicarakan dengan asosiasi (hotel). Apa langkah yang akan diambil selanjutnya,” jawabnya saat ditanya apakah kondisi saat ini sudah membuat adanya pengusaha yang bangkrut. 

(bx/wan/wid/yes/JPR)

Source link