Lantunan ayat Alquran terdengar lantang hingga ke beranda rumah, Selasa (5/6) siang itu. Yang melantunkan adalah Fakih Anugerah Pratama. Dia adalah kakak dari Faza Kurnia Isnanta, peraih nilai ujian nasional (NUN) sekolah dasar (SD) se Kota Kediri. Faza, yang siswa SDN Burengan 2 itu meraih nilai 285,1.

“Bahasa Indonesia saya mendapat 90,0, Matematika 97,4, dan IPA 97,7,” ungkap Faza malu-malu.

Kakak-beradik ini tinggal bersama orang tuanya di Perumahan Jenggolo Indah, Desa Gogorante, Kecamatan Doko, Kabupaten Kediri. Di rumah bertipe 36. Keduanya juga tidak beda dengan sebayanya yang suka bermain.

Ketika ditanya resep mendapatkan NUN tinggi, Faza bahkan menjawab bahwa belajarnya juga sama dengan yang lain. Dia pun tak pernah ikut bimbingan belajar selain di sekolah.

Yang agak khusus, mungkin karena Faza belajar bersama dengan sang kakak, Fakih. Kebetulan Fakih juga baru lulus dari SMP Negeri 4 Kediri. Hebatnya, sang kakak juga mendapat hasil lumayan. Dia merupakan peraih NUN peringkat 11 se Kota Kediri.

“Saya setiap hari belajar bersama Mas (kakak, Red). Kalau tidak bisa soal apapun saya selalu tanya Mas,” terang bocah berusia 12 tahun ini.

Kunci lain, sepertinya, adalah soal kedisiplinan. Pengumuman di pintu kamar itu salah satu buktinya. Keduanya tak boleh bermain game kecuali Minggu. Entah itu di laptop ataupun di ponsel. Dan, aturan itu dipatuhi. “Memang tidak boleh main game selain hari Minggu. Tapi pas hari Minggu full kita boleh memainkannya,” ujar anak berprestasi yang mengaku hobi game ini.

Sang ayah, Tomi Agus Joko Pratomo, membenarkan hal itu. Menurutnya, sejak awal kedua anaknya dan juga istrinya berkumpul. Mereka menyepakati satu aturan. Jika ingin sukses ya harus belajar sungguh-sungguh.

Karena itu, aturan tentang jam belajar dan pantangannya pun selalu ditegakkan. “Setelah Maghrib aturannya televisi wajib mati. Sehingga kedua anak saya belajar. Adapun saya dan istri saya bergantian biasanya menjadi satpam menemani anak-anak belajar,” terang bapak yang kesehariannya bekerja sebagai sopir ini.

Aturan itu diperlonggar usai ujian seperti sekarang ini. Apalagi, Faza sudah pasti diterima di SMPN 4 melalui jalur mandiri. Dia jadi yang terbaik dalam tes. “Tinggal kakaknya menunggu pengumuman jalur prestasi di SMAN 2 Kota Kediri,” terang Tomi.

Fakih punya modal untuk menembus jalur mandiri tersebut. Dia memegang modal menjadi juara pertama Olimpiade Sains Nasional (OSN) matematika di Kota Kediri.

Kakak-beradik ini memang jago matematika. Seperti kakaknya, Faza juga berprestasi di matematika. Saat kelas 2 SD diamendapat medali emas olimpiade di Jakarta. “Ya karena belajar bersama inilah kedua anak saya yang suka matematika juga,” ujar suami Iluk Solichah, guru di SMK Pawyatan Daha 2 ini.

Saat belajar, keduanya biasa selalu ramai. Saling berargumentasi mempertahankan pendapat. Oleh Toni, hal itu dibiarkan saja.

Selain disiplin, Tomi juga membina sisi rohani. Dia selalu membangunkan kedua anaknya di tengah malam. Agar salat tahajud. Karena menurutnya, salat malam sangat penting bagi mereka. Karena berdoa dan meminta hasil maksimal pada Tuhan. “Saya bilang pada anak-anak kalau minta pada Allah jangan tanggung-tanggung. Minta jadi yang terbaik pasti Allah akan mengabulkannya,” terang Tomi.

Walaupun demikian, Tomi tak membebani kedua anaknya dengan target menjadi juara. “Kami menanamkan usaha dan doa inilah yang membuat anak-anak saya bisa terpacu,” akunya.  

(rk/fiz/die/JPR)

Source link