SINGOJURUH –  Pengurus Cabang NU Banyuwangi resmi dilantik, Jumat (7/7). Pelantikan yang dipusatkan di Pondok Pesantren Manbaul Falah, Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh ini menandai estafet kepemimpinan PCNU di bawah duet H Ali Makki Zaini (Ketua Tanfidziyah) dengan KH Zainullah Marwan (Rois Syuriah) resmi bekerja.

Jika diperhatikan saksama, komposisi kepengurusan terutama di jajaran Tanfidziyah (pelaksana) banyak diisi wajah baru. Di jajaran Tanfidziyah, Ketua PC NU H Mohammad Ali Makki (sesuai SK) dibantu Sekretaris Mohammad Syaifuddin Zuhri yang  berasal dari kalangan pesantren dengan kelengkapan enam wakil sekretaris. Sedangkan bendahara dipercayakan kepada Zaki al Mubarok yang merupakan akademisi IAI Ibrahimy membawahi lima wakil bendahara.

Sedangkan beberapa nama yang sebelumnya berada di jajaran Tanfidziyah,  kali ini berada di jajaran A’wan (pembantu syuriah).  Seperti Guntur Albadri yang sebelumnya merupakan Sekretaris PC NU Banyuwangi.

Sementara  itu posisi Mustasyar ditempati KH Fathullah Suyuthi Thoha dan sejumlah kiai pesantren, termasuk KH Ali Masykur Ali yang sebelumnya  menjadi Ketua Tanfidziyah. Tidak hanya kalangan pesantren, sejumlah kalangan profesional  termasuk Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi juga masuk dalam struktur kepengurusan menempati jajaran Mustasyar.

Suasana pelantikan kemarin terasa unik. Usai pelantikan, seluruh tamu undangan menikmati hidangan nasi bungkus. Dalam sejarah pelantikan NU, belum pernah ada tradisi seperti ini. Tradisi makan nasi bungkus membawa makna kebersamaan seluruh pengurus PCNU. 

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PC NU KH Ali Makki Zaini menjelaskan, seluruh susunan nama tersebut merupakan hasil musyawarah dan usulan dari komponen nahdliyin. Mulai dari banom meliputi IPNU-IPPNU, PMII, GP Ansor, dan juga banom perempuan seperti Fatayat dan Msulimat serta kalangan stakeholder dari basis alumni seperti IKA PMII serta tidak ketinggalan kalangan pesantren. ”Kepengurusan Nahdlatul Ulama ini berdasarkan usulan stakeholder NU,” terang kiai yang akrab disapa Gus Makki tersebut.

Gus Makki memastikan semua usulan yang masuk berasal dari lembaga dan kelompok, tidak ada yang bersifat perseorangan. Untuk itu pihaknya berharap dukungan selama menjalankan roda organisasi ke depan. ”Tidak ada usulan pribadi. Kami mohon doa restu,” ucapnya.

Dalam kaitannya hal ini pula, pihaknya akan memastikan ruh pesantren semakin kuat di dalam organisasi NU. Untuk itu, salah satu prioritas yang dilakukan dengan melakukan penguatan kelembagaan pesantren. Secara teknis, pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan NU yang bersifat penggalangan masa di pesantren-pesantren di Banyuwangi. ”Kami sepakat Nahdlatul Ulama basisnya pesantren. Kami akan berusaha sekuat tenaga bagaimana menguatkan pesantren yang ada di Banyuwangi,” tegasnya.     Termasuk, penempatan lokasi pelantikan di Pesantren  Manba’ul Falah, Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh tersebut. Ini agar warga nahdliyin dari berbagai daerah kecamatan melihat pesantren yang memiliki titik sejarah dengan NU. ”Kita adakan di sini, Karena dulu pada tahun 92 konferensi cabang pernah di sini,” kata Gus Makki.

Tidak hanya itu, pengalaman warga NU melalui NU Care saat terlibat langsung dalam penanganan pascabencana banjir Alasmalang juga sempat menjadi acuan Gus Makki dalam menjalankan roda organisasi ke depan. Dalam kesempatan itu pula, dia mengeluarkan instruksi kepada semua jajaran pengurus ranting untuk mencatat tetangga yang masih masuk dalam kategori prasejahtera dan kebingungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Data tersebut selanjutnya akan dikumpulkan pada 17 Agustus mendatang. Tidak main-main, Gus Makki juga memberi reward berupa kambing etawa kepada 25 ranting terbaik dalam memberikan catatan. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kegiatan dan mendekatkan kerja organisasi kepada misi kemanusiaan. ”Kita ke depan ingin fokus kegiatan kemanusiaan,” tegasnya.

Upaya ini, menurut Makki, di samping untuk mendekatkan pengurus dengan isu sosial, juga untuk mengikis isu yang selama ini beredar di kalangan warga NU. Yakni adanya sekat pemisah antara warga kultural dengan struktural. ”Kita munculkan manunggaling jamaah dan jamiyah.  Hilangkan dikotomi kultur dan struktur,” pesan Gus Makki.

Isu internasional juga sempat dia bahas. Salah satunya agar warga NU senantiasa memberikan dukungan untuk kedamaian dan keselamatan warga di Palestina dan Syiria. ”Saya titip, setiap ada kegiatan. sisihkan Fatihah untuk pejuang Palestina dan Syiria,” serunya.

Source link