Perdebatan bermula dari akun bernama Teja Surya Centre yang membuat status berisi postingan gambar seorang pria menyunggi dulang berisi tumpukan uang. “BESOK BISA TRONTON BAWA UANG BANTU RAKYAT. ini mendidik rakyat kurang cerdas bahkan Politik pragmatisme hanya sebuah sandiwara sebenarnya adalah uang rakyat bukan uang pribadi. Kami bertanya kepada semua pihak apakah ini di benarkan secara administrasi pemetintahan. melihat keraguan tentang kenyamanan. Kami mendalami situasi politik saat ini,” tulisnya pada grup facebook (fb) SUARA BULELENG, Jumat (2/2) pukul 23.13. Hingga Minggu (4/2) kemarin sore, uggahan tersebut dikomentari 105 akun dan dua kali dibagikan.

Tanggapan yang dilayangkan beragam. “Nak dibadung to puak ngengken wak bleleng ngurusang di badung (Orang di Badung itu Pak. Buat apa kita di Buleleng mengurus yang di Badung) kikikiki,” tulis akun atas nama Dede Banjar yang terkesan netral. “ne be madan transparansi dalam menyalurkan bansos..sing buin misi potong sana potong sini…biasane kan disunat klo maan bansos (Ini namanya transparansi dalam menyalurkan bansos.. tidak lagi potong sana potong sini… biasanya kan disunat kalau dapat bansos) whwhwhwh,” tulis akun bernama Made S Yudiarta setelahnya. “Belog ajum (bodoh tapi suka gaya-gayaan),” sahut akun Nyoman Jeremia.

Ternyata foto postingan tersebut diunggah oleh akun Ida Ayu Putu Anggreni pada hari yang sama pukul 23.51 di grup fb SUARA BADUNG. “Status orang yg tidak suka meliat masyarakat banyak terbantu. Justru status ini yg membodohi masyrakat dan menyesatkan masyrakat. ini bukan sandiwara justru kita sudah tau semuanya yg di berikan itu adalah uang negara yg berasal dr rakyat diberikan lagi ke rakyat,” tulisnya.

Tak berhenti di situ, akun tersebut mengaitkan postingan itu dengan situasi politik Pemilihan Gubernur Bali. Ratusan komentar pun membanjiri status yang diunggah tersebut. “terus klo pemerintah sdh memberi apa yg mnjadi hak rakyat dan rakyat sdh menerima sesuai dgn kwantasi dan kenyataan, trs apanya yg salah????? dr pada hanya rakyat menerima kwitansi bodong trs yg trima tdk sesuai kenken dadine, kan liu rakyat menerima tdk sesuai dgn kwitansi..?????” tulis akun Janet Jelantik. “Ini sudah bagus sebenrnya, jika bisa nanti itu uangnya jangan seperti gelondongan begtu, pakai simbolis saja mungkin seperti cek misalnya atau dikirimnya lwat BANK, takutnya nanti yg tidk di inginkan terjadi, sperti permapokan mungkin, mdah”n tidak, tpi sdh bagus tapi jgn terlalu fulgar biar kesannya tidak mendewakan uang di rumah tuhan, makasi,” tulis akun Igusti Putusubrata Kepakisan.

Kembali digunjingkannya cara penyerahan uang secara tunai dalam jumlah besar tersebut ditanggapi Sekda Kabupaten Badung, I Wayan Adi Arnawa. Menurutnya, penyerahan bantuan secara tunai sudah berdasarkan mekanisme yang ada. “Sebenarnya itu kan dilihat di hilirnya. Sebenarnya mekanisme itu, Pak Bupati sudah nontunai by transfer, hanya masyarakat itu kan ingin pembuktian bahwa memang benar ini uangnya, sehingga diserahkan lagi oleh Bapak Bupati. Padahal uangnya kan sudah masuk ke rekening si penerima lewat transfer,” ungkapnya saat dikonfirmasi kemarin.

Mengenai di foto tersebut ada baliho Pasangan Calong Gubernur-Wakil Gubernur KBS-Ace di belakanganya, Adi Arnawa enggan berkomentar. “Kalau itu, saya tidak berani komentar. Tapi yang jelas Bapak Bupati menyerahkan dana hibah, bantuan, secara cash atau tunai itu, prosedurnya sudah dilewati sebagaimna undang-undang sekarang, non tunai,” tegasnya. 

(bx/adi/yes/JPR)

Source link