Menurut warga setempat, lalu lintas truk pengangkut material mulai ramai di jalur Kecubung-Sumengko sejak Senin (14/5) lalu. “Kalau terus lewat sini, kami khawatir jalannya bisa rusak seperti dulu,” kata Purwanto, 35, warga Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro.

Untuk diketahui, jalur Kecubung-Sumengko yang sebelumnya rusak parah akibat lalu-lintas truk material baru selesai diperbaiki tahun lalu. Kini, jalur yang menghubungkan antara kecamatan Pace dan Sukomoro itu sudah mulus.

Karenanya, begitu ada banyak truk material yang kembali melintas di desa mereka, warga khawatir jalannya akan kembali rusak. Apalagi, di jalur tersebut ada dua jenis jalan. Yaitu jalan beton di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro yang memiliki kapasitas hingga 40 ton. Jemudian, jalan aspal biasa di Desa Kecubung, Kecamatan Pace.

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Nganjuk Samsul Huda mengatakan, kapasitas jalan desa biasanya hanya lima ton. Jalan tersebut berlaku untuk aspal di jalur Kecubung-Sumengko. Diantaranya, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace dan Desa Putukrejo, Kecamatan Loceret.

Apakah dishub akan menindak truk dengan tonase di atas kekuatan jalan itu? Ditanya demikian, Samsul menyebut Dishub Nganjuk tidak berwenang melakukan penindakan. “Biasanya langsung dishub provinsi bersama Satlantas Polres Nganjuk,” kata Samsul.

Seperti diberitakan, beralihnya jalur truk pengangkut material proyek Tol Trans Jawa itu menyusul penolakan warga dari enam desa yang jalannya rusak parah. Yaitu, warga Desa Gemengngeng, Kutorejo dan Kerepkidul, Kecamatan Bagor. Kemudian, warga Desa Sukorejo, Sidokare dan Mojorembun, Kecamatan Rejoso.

Perwakilan warga enam desa itu Jumat (11/5) lalu melakukan demo di DPRD Nganjuk. Mereka meminta wakil rakyat memfasilitasi masalah kerusakan jalan di desa mereka akibat proyek tol.

Setelah demo itulah, Jumat sore warga melarang truk pengangkut material lewat jalan desa mereka. Terutama jenis truk jungkit atau dump truck. Sumari, 29, warga Desa Gemenggeng, Kecamatan Bagor mengatakan, warga memang melarang dump truck lewat daerah mereka. “Kalau truk biasa masih boleh karena bebannya tidak terlalu berat,” kata pria berambut panjang ini.

Untuk menghentikan dump truck lewat daerah mereka, pemuda desa bergantian berjaga di jalan. Warga juga memasang banner berisi penolakan truk tronton dan dump truck lewat daerah mereka. dengan banner bertuliskan, “Kami warga setempat menolak keras muatan tronton sampai jalan ini diperbaiki”.

Jika Jumat (18/5) nanti PT Wijaya Karya tidak segera memperbaiki jalan dan menunjukkan itikad baik untuk datang ke dewan, warga sepakat untuk memblokade jalan. “Kami tutup total jalan ini,” tegasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Source link