FS 2017 digagas dan diselenggarakan oleh Komunitas Stingghil dan Uji Coba Teater (UCT). Gagasan itu muncul pasca-Workshop Penciptaan bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute. Sampang dipilih sebagai tuan rumah, Mei 2017. FS lahir dari kegelisahan bersama bahwa di Sampang perlu ada yang memulai lahirnya festival tahunan di bidang seni pertunjukan.

Meskipun acara perdana ini hanya menyajikan dua program, satu pertunjukan teater dan diskusi sastra, FS diharapkan menjadi gelanggang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dan, pertunjukan UCT bertajuk Mimpi di Atas Pagi malam itu merupakan representasi kesadaran bahwa seni adalah ilmu pengetahuan.

UCT adalah salah satu kelompok teater independen di Kota Sampang dan didirikan oleh dua pemuda: Syukron Yusuf dan Syamsul Arifin. Dalam prosesnya, mereka berupaya menjadikan teater sebagai laboratorium untuk mendefinisikan kembali laju perteateran di Madura. Mereka membangun visi pada konteks estetika dengan terus-menerus mengolah kemungkinan atau sesuatu yang dekat dengan diri (local genius), bereksperimen untuk menemukan wacana dan bahasa baru, baik dari aspek pemikiran, model pengucapan teater, maupun metode penciptaannya.

Malam itu, UCT membawakan produksi ketiga setelah Papan Teka-Teki (2016) dan Pelabuhan Purba (2017). Mimpi di Atas Pagi masih disutradarai oleh Sukron Yusuf dan masih dalam konsep minimalis. Meskipun begitu, terlihat bahwa kelompok ini sedang membangun karakter pertunjukannya dalam pemilihan tubuh sebagai pusat pertunjukan serta garis pertunjukan yang dibangun.

Seperti pertunjukan malam itu, dua aktor lelaki sedang membuat garis dari pasir hitam berbentuk persegi. Garis itu, pada saat yang sama, menjadi pemisah antara penonton dan penyaji, selain sebagai bagian dari pertunjukan itu sendiri. Itulah adegan pertama UCT yang memakai konsep teater arena.

Adegan pertama pertunjukan itu juga melibatkan MC sebagai ”aktor.” Begitu MC menutup narasi dan menyerahkan sepenuhnya panggung kepada UCT, pertunjukan ”sesungguhnya” dimulai. Adegan dimulai ketika aktor 1 (Syukron) beteriak seperti orang kesurupan di pojok depan. Selanjutnya, adegan demi adegan pun mencair.

Seperti pertunjukan Papan Teka-Teki,  UCT secara teknis membangun kesadaran garis pertunjukan yang dihadirkan secara rapi, salah satunya dalam pergerakan bangun datar. Mereka bergerak secara persegi maupun diagonal. Dalam Mimpi di Atas Pagi pergerakan diagonal dimunculkan dalam dua kali adegan dan menjadi kode penting untuk memasuki pertunjukan tersebut.

Pertama, pergerakan diagonal muncul bersamaan dengan dua aktor saling bertabrakan dan memencar ke sisi lain untuk kembali lagi dalam alur garis diagonal. Musikalitas pertunjukan ditampilkan melalui suara piring seng dan sendok yang dipukulkan. Dialog perdana pun muncul dan meneror penonton. ”Beras habis, telur habis, pulsa habis, kopi habis, rokok habis….” Dialog itu ingin menegaskan latar belakang pertunjukan tersebut, yakni keterimpitan ekonomi dan ketidakberdayaan hidup.

Pergerakan diagonal kedua tidak terjadi secara langsung, tetapi berupa ”bentuk.” Dua aktor berjalan secara persegi, tetapi masing-masing aktor berdiri saling berlawanan di setiap sudut. Sebelumnya, dua aktor saling berhadapan dan memainkan telepon kaleng menyampaikan kegelisahannya tentang ketakutan dan kehilangan, ”Jangan takut, aku tidak hilang. Aku takut hilang, hilang membuatku takut.”

Dialog itu terjadi secara repetitif. Dalam adegan itu, permainan telepon kaleng tidak diarahkan dari mulut ke telinga saja, tetapi juga dari mulut ke dada, bahkan dari mulut ke kelamin.

Lepas dari adegan tersebut, dua aktor saling menarik telepon sampai benang putus dan berjalan secara persegi dan berhenti di setiap sudut mengulang dialog tentang kehilangan dan ketakutan. Namun, dalam adegan tersebut diakhiri dengan dialog, ”Ook.. Ca’ok.”

Dalam penuturanya, saat sesi diskusi, Syukron, sang sutradara, menyampaikan bahwa pertunjukan ini mengambil semangat dari tradisi ok-ca’ok, yakni tradisi berupa yel-yel masyarakat Pelabuhan Tanglok saat melarungkan kapal baru yang siap berlayar. Ingatan itu dihadirkan beserta persoalan di dalamnya, seperti kepunahan dan keterimpitan ekonomi para nelayan.

Tidak mudah memang memasuki pertunjukan yang menjadikan tubuh sebagai pusat pertunjukan sebagaimana pertunjukan realis yang lebih mudah dipahami. Dengan memilih tubuh sebagai pusat komunikasi, teater menjadi lebih kompleks, tetapi pada saat yang sama, justru kaya pemaknaan. Hal itu terjadi karena penonton akan membangun sendiri ingatan dan pemaknaan melalui tubuh sang aktor. Dengan cerdik, kode-kode itu dihadirkan secara repetitif serta pergerakan yang rapi dan sistematis. Ini adalah salah satu cara yang mereka lakukan untuk menebalkan ingatan, sekaligus agar penonton tidak terlalu sulit memasukinya.

Pertunjukan Mimpi di Atas Pagi membuka kembali kesadaran penonton tentang ingatan masa kecil dan persoalan-persoalan hidup yang hilir mudik dari ingatan antara kehilangan dan ketakutan.

Pertunjukan UCT menyajikan garis pertunjukan yang matematis, simetris, rapi, dan repetitif. Saya pikir itulah karakter yang hendak mereka bangun, selain konsep yang minimalis. Tentang pertunjukan minimalis itu, tanpa pemusik dan hanya dua aktor,  bisa jadi karena keterbatasan sumber daya manusia. Karena itu, layak ditunggu bagaimana bentuk pertunjukan UCT jika melibatkan lebih banyak aktor pada produksi-produksi berikutnya.(*)

*)Esais dan Direktur Komunitas Stingghil

(mr/*/bas/JPR)