Penggerebekan puluhan remaja tersebut dilakukan setelah polisi mendapatkan informasi adanya balap liar yang digelar menjelang sahur di kawasan Jalan Dupak-Demak. Setelah itu, polisi melakukan penyisiran dan didapati di Demak ada ratusan remaja yang sedang menggelar balap liar. 

 Respon cepat dilakukan, Tim Kuda Liar dari Satlantas Polrestabes Surabaya langsung terjun ke lokasi. Dengan menggunakan motor dan mobil, polisi membubarkan balap liar yang didominasi oleh pelajar itu. 

 Sontak saat mengetahui kedatangan polisi, ratusan remaja yang ikut balap liar maupun yang hanya menonton semburat. Mereka kalang kabut ke sejumlah arah. Bahkan ada yang berbenturan kendaraan dengan sesama temannya. 

 Meski ratusan remaja berhasil lolos, namun polisi berhasil mengamankan 43 remaja. Mereka tak bisa kabur lantaran terkepung oleh polisi. Selanjutnya, mereka beserta  27 motor dibawa ke Mapolrestabes Surabaya. 

 Kabagops Polreestabes Surabaya AKBP Bambang Sukmo Wibowo mengatakan setelah diamankan, mereka masing-masing didata. Dari data tersebut diketahui jika mereka berasal tak hanya dari Surabaya saja, melainkan juga Gresik.  “Mereka semuanya pelajar,” ungkapnya. 

 Menurut Bambang setelah dilakukan pembinaan, mereka akan tetap diminta tinggal di Mapolrestabes Surabaya sebelum dijemput oleh orang tua atau keluarga mereka. Tak hanya itu, pihak sekolah tempat mereka belajar juga akan di ajak untuk koordinasi. 

 “Tentunya kami tak hanya ingin menegakkan hukum saja. Masa depan mereka tentunya jauh lebih penting. Sehingga dengan adanya koordinasi itu, kami berharap jika mereka bisa membantu proses pengawasan terhadap anak-anak ini,” jelasnya. 

 Bambang juga mengimbau kepada masyarakat agar tak ragu untuk melaporkan jika ada kejadian yang meresahkan, seperti balap liar. Sehingga pihaknya bisa segera bisa menindaklanjutinya.

Untuk membawa kembali motor yang kena razia pada balap liar, harus memenuhi beberapa persyaratan. Meski sudah membayar tilang, namun pemilik motor protolan yang biasa digunakan trek-trekan tidak akan mudah untuk mendapatkan motornya kembali. Sebab Satlantas Polrestabes mensyaratkan selain menyerahkan bukti pembayaran tilang, mereka juga harus memasang  perlengkapan motor sesuai standar di tempat.

“Jadi jika ingin motor mereka kembali, tidak cukup hanya membawa surat tilang saja. Mereka juga harus membawa onderdil motor standar dan diganti di tempat. Sementara untuk onderdil yang tidak standar akan kami sita dan musnahkan agar tidak dipakai lagi di kemudian hari,” ungkap Kasat Lantas Polrestabes Surabaya, AKBP Eva Guna Pandia. 

Menurut Pandia dari pembubaran balap liar di Demak, terdapat 27 motor yang disita, hampir keseluruhan onderdilnya sudah tidak standar lagi, mulai dari mulai dari ban, veleg, knalpot brong, spion serta stang motor. Padahal ini onderdil yang tidak standar tersebut sering menimbulkan kecelakaan dan membahayakan bagi pengendaranya.

“Kami juga meminta agar saat proses penggantian onderdil standar ini, para remaja ini juga harus didampingi oleh anggota keluarganya. Agar mereka juga turut memberikan nasihat terhadap anak-anaknya,” jelasnya.

Selain itu, hukuman lain yang bisa dilakukan agar memberikan efek jera adalah pemilik motor yang memilik knalpot brong tersebut diminta untuk mendengarkan knalpot bisingnya.Tujuannya agar pemilik kendaraan ini mengetahui bahwa bunyi dari knalpot tersebut sangat meresahkan.

“Ya intinya memberikan efek jera dan memberikan pelajaran bagi mereka,” jelasnya. (yua/no)

(sb/yua/jek/JPR)