Dari pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, Merapi mengalami erupsi freatik. Itu adalah erupsi freatik ketujuh sejak letusan dahsyat pada 2010 silam. Ketinggian kolom asap mencapai 5,5 kilometer, yang berakibat beberapa wilayah di DIJ diguyur hujan abu dengan intensitas bervariasi. Sementara dari pantauan Radar Jogja, kawasan radius 2-4 kilometer dari puncak Merapi mengalami hujan pasir.

“Erupsi freatik hanya selama lima menit. Setelah itu tidak ada aktivitas lain, termasuk erupsi susulan. Tidak ada perubahan morfologi dalam kawah,” ungkap Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaidah.

Menurutnya, erupsi freatik tersebut disebabkan akumulasi gas sisa erupsi 2010 lalu yang belum keluar. Kemudian bercampur dengan rembesan uap air di permukaan kawah, sehingga menghasilkan uap air berwarna putih. “Tidak ada magma maupun awan panas,” jelasnya.

Sejak mengalami erupsi besar 2010, lanjut Hanik, muncul karakteristik baru pada Merapi. Salah satunya, terjadinya erupsi freatik yang tak terdeteksi alat pemantau maupun gejala alam lain.

Hanik yang kemarin pagi berada di pos pemantauan Jrakah, Boyolali, Jawa Tengah mendapat informasi bahwa sebelum mengalami erupsi sempat terjadi kenaikan suhu di puncak Merapi, meski hanya singkat. Mencapai 80-90 derajat Celsius.

Kendati demikian, Hanik meminta masyarakat tak perlu panik, tapi tetap waspada. Status Merapi dinyatakan tetap normal. Dalam kondisi tersebut aktivitas di sekitar Merapi dibatasi hanya dalam radius dua kilometer dari puncak.

“Sehari sebelumnya memang tidak ada pertanda apa-apa, semua normal. Banyak pendaki juga,” jelas pengamat Gunung Merapi BPPTKG Jogjakarta Ahmad Sopari, yang sempat turun ke kawah Merapi untuk melakukan sampling gas Kamis (10/5) siang.

Mengenai sampel yang diambil, Ahmad belum bisa menjelaskan hasilnya karena membutuhkan analisis laboratorium.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Ammy Nurwati bergerak cepat menutup semua jalur pendakian yang ada di kawasan Salu Angin, Klaten dan Sleman.

Terkait dengan pendaki yang masih berada di Pasar Bubrah, Ammy telah berkoordinasi dengan tim SAR setempat untuk evakuasi. “Tanggung jawab kami untuk mengevakuasi para pendaki,” katanya.

Ammy menerbitkan surat edaran yang menyebutkan tentang penutupan objek wisata di kawasan TNGM. Dalam surat bernomor SE: 250/BTNGM/TU/Ren/05/2018, beberapa objek wisata yang ditutup, antara lain, Tlogo Muncar dan Tlogo Nirmolo (Kaliurang, Pakem); Panguk dan Plunyon (Kalikuning, Cangkringan); Sapuangin-Deles (Kemalang, Klaten); Jurang Jero (Srumbung, Kabupaten Magelang); dan jalur pendakian dari Sapuangin maupun Selo, Boyolali. “Untuk sementara ditutup sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian,” sebut Ammy lewat surat edaran tertulis itu.

Anggota Jeep Tour Wisata Merapi Utari membenarkan penutupan area TNGM. Kegiatan Jeep Tour Merapi pun dihentikan sementara karena wisatawan sempat panik. Menurut Utari, komunitas Jeep Merapi sepakat tak membuka orderan sampai situasi kembali kondusif. “Demi keselamatan dan keamanan bersama. Orderan yang masuk kami alihkan lain waktu,” ujarnya.

Erupsi freatik Merapi bukan hanya mengejutkan warga DIJ. Terlebih mereka yang menghuni kawasan lereng gunung aktif itu. Warga Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan Ngadimin, 50, mengaku sempat panik begitu mendengar suara gemuruh. Bersama warga lain, dia pun keluar rumah. Beberapa warga Cangkringan bahkan sempat diungsikan ke barak-barak pengungsi yang ada di radius 5 kilometer dari puncak Merapi. Di antaranya, di posko Wukirsari. “Tidak ada peringatan seperti biasanya. Tiba-tiba ada suara gemuruh dan gempa.  Saat melihat keluar rumah ternyata asap sudah membumbung tinggi,” katanya.

Yang membuat warga makin panik, lanjut Ngadimin, sirine tanda bahaya di kawasan rawan bencana 3 Merapi tidak berbunyi.

Komandan SAR DIJ Unit Cangkringan Joko Irianto membenarkan sirine tidak berbunyi. Menurutnya, hal itu akibat erupsi freatif yang berlangsung tanpa gejala awal. Bahkan pantauan cuaca saat itu cerah.  “Untungnya tidak ada korban. Tim kami yang terdekat langsung mengevakuasi warga,” katanya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X meyakini bahwa warga Jogakarta bisa mengatasi dampak letusan freatik Merapi kemarin dengan tenang. Pemprov DIJ pun dirasa belum perlu mengambil tindakan kedarurat. ” Saya kira sejak awal aktivitas mereka (masyarakat, Red) sudah siaga,” katanya.

Status tanggap darurat hanya akan diberlakukan atas rekomendasi BPPTKG maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ. ”Beluam ada amanat siaga dari BPBD,” lanjut HB X.

Kepala BPBD DIJ Biwara Yuswantana mengatakan, kedaruratan sempat diterapkan pada warga yang berada di radius 5 kilometer dari puncak Merapi. Ratusan warga yang sempat diungsikan ke tempat aman pun boleh kembali ke rumah masing-masing  setelah BPPTKG menyatakan kondusif.

“Peringatan dini bagi warga di KRB 3 Merapi memang tidak sempat dilakukan. Karena erupsi berlangsung cepat tanpa disertai kegempaan,” ucapnya.

Diakui, saat ini masih ada ratusan warga yang menghuni KRB 3 Merapi. Meskipun ada larangan kawasan tersebut sebagai area hunian. Dengan kejadian kemarin Biwara berharap bisa menjadi pertimbangan warga di KRB 3 untuk relokasi ke tempat yang lebih aman. 

(rj/ong/ong/JPR)

Source link