PEKALONGAN – Calon Wakil Gubernur Jateng Ida Fauziyah mendapatkan energi baru saat bersilaturahmi dengan ratusan anggota Nasyiatul Aisyiyah Jateng. Selain bersilaturahmi, Ida juga didapuk sebagai pembicara dalam “Training of Trainers” Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah dengan tema “Pelayanan Remaja Sehat”.

“Ini membawa semangat baru, energi baru buat saya. Apalagi diajak diskusi soal remaja. Karena bicara soal remaja adalah berbicara masa depan bangsa,” katanya usai mengisi acara di Pekalongan.

Ida menambahkan, saat ini berbagai ancaman mengintai bangsa ini. Antara lain upaya penyelundupan narkoba dari negara lain. “Betapa sedihnya kita, jika benar narkoba itu bisa masuk dan mengancam para remaja kita,” jelasnya.

Saat ini, jelas Ida, pemerintah sudah mendapat bonus demografi. Keberadaannya bisa menjadi peluang emas, atau sebaliknya, yakni musibah. Karena ternyata saat ini di Jawa Tengah, angka partisipasi kasar pendidikannya baru 7,4 tahun. Belum sampai 9 tahun. “Artinya masih banyak pendidikannya yang SMP pun belum tuntas,” tambahnya.

Ke depan, hal itu harus diperbaiki, salah satunya dengan mengejar angka 9 hingga 12 tahun, atau lulus SMA. Sebab kalau kondisinya tak sampai lulus SMP, remaja-remaja akan lari ke pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, meskipun sampai ke luar negeri. Mereka yang ke luar negeri, sebut Ida, kebanyakan adalah kaum perempuan. “Bagi perempuan yang sudah berkeluarga dan punya anak, maka pendidikan anaknya bisa terbengkalai. Pendampingan pada anak juga tak maksimal,” tambahnya.

Satu sisi, lanjutnya, perkembangan teknologi saat ini, juga membawa dampak positif dan negatif. Sebab, jika remaja menggunakan gadget secara negatif, bisa terpapar hal negatif pula. “Karena tak ada pendampingan bisa terpapar pornografi. Lalu, bisa ke perbuatan lain dan nikah dini. Karena belum siap nikah, maka berimbas pula pada masa depan keluarganya,” terangnya.

Salah satu anggota Nasyiatul Aisyiyah, Latifah mengaku sepakat dengan gagasan-gagasan yang disampaikan Ida. Salah satunya mengurangi jumlah kemiskinan dan menambah lapangan pekerjaan. “Termasuk tentunya pemberdayaan bagi kaum perempuan, itu sangat bagus,” tambahnya.

(sm/fth/ton/JPR)