Namun demikian, berkaca penyelenggaraan pilkada di sejumlah wilayah, momentum seperti ini acapkali rawan dimanfaatkan oknum atau kelompok tidak bertanggungjawab yang ingin memecah belah persatuan bangsa. “Yang terakhir ini polisi berhasil membongkar jaringan saracen, mereka menjual jasa penyebar kebencian, bekerja secara sistematis, kita harapkan kejahatan ini bisa diusut sampai ke akar-akarnya, biar menimbulkan efek jera,” tandasnya.

Bersamaan momentum tahun-tahun politik seperti ini, tidak menutup kemungkinan gerakan seperti ini masuk, melalui penetrasi menyerang figur tertentu, kelompok tertentu sehingga memunculkan gejolak politik di masyarakat. “Terhadap saracen, seluruh wilayah kita lakukan penelusuran,” imbuhnya.

Namun demikian, dirinya menilai masyarakat di Jombang sudah sangat dewasa terkait pendidikan politik. “Saya yakin isu mengenai SARA(suku, agama, ras dan antar golongan) di Jombang tidak akan laku, masyarakat sudah semakin dewasa, namun demikian tetap harus kita waspadai,” imbuhnya.
Selain itu, tidak kalah penting potensi gerakan-gerakan radikal yang ingin membuat rusuh jalannya pilbup. “Kita juga patut antisipasi munculnya pihak ketiga, ancaman gerakan radikal tetap kita harus waspadai bersama,” tandasnya.

Karenanya, pihaknya berharap masing-masing simpatisan atau pendukung pasangan calon tidak menggunakan cara-cara atau kampanye yang bisa menimbulkan perpecahan. “Semua sudah ada ketentuannya, laksanakan sesuai aturan main, semisal jangan ada money politic, curi start kampanye atau hal-hal yang bisa memicu timbulnya gangguan kantibmas,” tandasnya.

Source link