Salah satu perajin pisau Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Sahri Baedlowi mengatakan, sejak adanya pisau impor masuk, pesanan tidak seramai dulu. Saat ini satu minggu pesanan hanya sekitar 200 item. Sebelumnya, bisa capai 500-an lebih item pisau per minggu.

”Pisau impor yang sekarang ini masuk pasar tradisional harganya cukup murah. Hal itu ikut mempengaruhi transaksi penjualan,” katanya.

Meski begitu, para perajin pisau di kawasan sentra kerajinan pisau Hadipolo tetap mempertahankan harga. Tidak terpengaruh murahnya pisau impor.

Adapun cara mengantisipasi maraknya pisau impor, pihaknya melakukan inovasi untuk mempertahankan mutu dan kualitas. Menurutnya, kerajinan pisau lokal masih kalah dalam hal promosi serta tampilan produknya dibandingkan produk serupa buatan luar negeri.

”Untuk kualitas ketajaman pisaunya, untuk pisau lokal Kudus masih lebih unggul. Namun untuk penampilan memang kalah dengan produk impor. Jadi, inovasi kemasan yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Salah satu penjual alat pertukangan Pasar Kliwon Supangat mengatakan, tak hanya pisau, mata cangkul saja sekarang dari Tiongkok yang lebih laku terjual. Harganya lebih murah dibanding lokalan.

Untuk pisau, memang kalah dari buatan luar negeri. Contohnya, pisau dapur dari lokal Kudus bahan stainless kisaran Rp 50 ribu. Sementara dari Korea hanya Rp 30 ribu per pisau. ”Gagang pisaunya memang bagus yang impor. Tapi dari segi kualitas pemakaiannya bagus lokal Kudus,” ucapnya.

(ks/san/lil/top/JPR)