PENUH DECAK KAGUM: dr Supriyanto menjelaskan inovasi pelayanan di RSUD dr Iskak kepada anggota Komisi 3 DPR RI Arteria Dahlan dan rombongan.
(RSUD DR ISKAK FOR RATU)

TULUNGAGUNG – Tidak salah kalau Mendagri Tjahjo Kumolo menganugerahkan penghargaan kepada Pemkab Tulungagung sebagai kabupaten dengan kinerja tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah pada 25 April lalu.

Pemerintahan daerah yang berhasil memfasilitasi nyaris seluruh perangkatnya agar bisa berkinerja maksimal. Memang itulah tujuan dibentuknya sebuah pemerintahan otonomi daerah.

Sebuah pemerintahan daerah yang berhasil memanfaatkan sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun sarana prasarana, serta kearifan lokal sehingga bisa meminimalisasi ketergantungan dengan pemerintah pusat dan tetap menjaga kohesivitas pusat dan daerah.

Untuk kesekian kalinya, RSUD dr Iskak menarik perhatian nasional. Bahkan, Komisi III DPR RI merekomendasikan inovasi yang ditempuh rumah sakit ini diadopsi seluruh rumah sakit pemerintah, mulai Sabang hingga Merauke.

“Visi kebangsaan dan nuansa kerakyatan hadir di RSUD dr Iskak Tulungagung ini,” kata anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan usai melakukan kunjungan kerja di rumah sakit milik Pemkab Tulungagung pada Minggu (29/4) lalu.

Pujian politisi PDI Perjuangan (PDIP) itu tidak berlebihan. Di rumah sakit ini, Arteria –sapaan akrabnya- melihat bagaimana peran negara hadir memenuhi kebutuhan masyarakat dalam arti sesungguhnya.

Inovasi pelayanan birokrasi inilah yang diharapkan Presiden Joko Widodo bisa dilakukan seluruh lembaga pemerintahannya.

Kedatangan Arteria Dahlan ke RSUD dr Iskak Tulungagung tak main-main. Mereka mewakili DPR RI sekaligus DPP PDIP untuk melihat langsung konsep inovasi pelayanan birokrasi di rumah sakit ini.

Begitu tiba di rumah sakit, rombongan Arteria Dahlan langsung melihat aktivitas pelayanan di setiap ruangan. Termasuk instalasi gawat darurat (IGD) yang menjadi ujung tombak pertolongan pasien dan diduplikasi banyak rumah sakit di Indonesia.

Kekaguman Arteria dan jajaran pengurus PDIP makin pecah saat mendengar paparan Direktur RSUD dr Iskak dr Supriyanto SpB. Dengan terbuka, dr Supriyanto membeberkan rahasia di balik inovasi pelayanan yang dilakukannya hingga mampu memberi jaminan kesehatan kepada seluruh masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.

“Di sini (Tulungagung, Red) orang cuma butuh lahir. Lainnya diurus pemerintah daerah, sakit ditangani dr Supriyanto,” kata Arteria memuji kinerja direktur rumah sakit.

Dia juga mengapresiasi kinerja Pemkab Tulungagung yang memfasilitasi RSUD dr Iskak hingga menjadi seperti ini. Meski tak ditopang APBD maupun APBN, manajemen RSUD dr Iskak mampu mengalokasikan dana senilai Rp 4 miliar per tahun untuk membantu pasien miskin.

Tak ada kisah pasien ditolak saat mendaftar di loket rumah sakit ini. Selama menunjukkan kartu identitas penduduk dan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, selalu ada tempat bagi mereka untuk dirawat. Termasuk masyarakat miskin yang tak dilindungi jaminan BPJS maupun pemerintah daerah (jamkesda).

Hal lain yang membuat Arteria makin berdecak kagum adalah komitmen kemanusiaan yang tinggi di jajaran pegawai rumah sakit. Mereka bersepakat tak mengejar keuntungan terlalu tinggi demi memberikan pelayanan gratis dan murah kepada masyarakat.

Laba yang diperoleh dialokasikan untuk menyubsidi pasien miskin. “Meski sebenarnya, mereka bisa kaya seperti rumah sakit lain yang mengejar laba,” kata pria berkacamata ini.

Untuk menekan biaya pengobatan, setiap dokter juga diminta menggunakan obat generik. Selain kualitasnya sama dengan obat paten, penggunaan obat generik sangat meringankan biaya perawatan.

“Kita akan bawa sampel (contoh, Red) RSUD ini sebagai pilot project terkait reformasi birokrasi dan inovasi pelayanan publik terbaik dan akan kita paparkan kepada Ibu Menko PMK, Kapolri, dan Bapak Tjahjo Kumolo (Mendagri) agar bisa diaplikasi seluruh rumah sakit di Indonesia,” tandasnya. (ed/rka)

(rt/rak/ang/JPR)