Begitulah potret nelayan kita. Acap kita dengar keseharian mereka bak roller coaster. Saat musim ikan mereka bisa sedikit bernafas lega. Namun, dengan cepat roda hidup mereka tergelincir. 

Jamak kita dengar kondisi nelayan pesisir kita dengan segala nestapanya. Berkah musim ikan itu tak pernah bisa lama mereka nikmati. Belum lagi, jika panen ikan ternyata juga terjadi di daerah lain. Hantaman supply ikan membuat mereka kembali tak berdaya. Menyerah oleh hukum pasar. 

Ironi memang. Di negara yang lebih 70 persen wilayahnya adalah lautan tapi senyatanya para nelayan kita masih jauh dari kata sejahtera. Mereka selalu kalah. 

Keberanian mereka mengarungi lautan ternyata sangat tak signifikan dengan kondisi hidup. Sehari-hari bertaruh nyawa ternyata juga tak membuat mereka mampu menjamin dapur tiap hari ngebul. 

Kesulitan  dalam meningkatkan ekonomi, pendidikan rendah yang mereka alami jauh dari jangkaun negara. Istilah sederhana dari kenyataan itu adalah Cedhak Watu, Adoh Ratu.

Hidup berat, jauh dari pemimpin. Itulah yang dialami oleh masyarakat pesisir di Indonesia. “Selama ini, hampir tidak ada perhatian pada masyarakat pesisir,” kata Antropolog Maritim Universitas Jember, Drs Kusnadi MA. 

Dia menilai potensi maritim di Jember sangat besar. Bahkan, justru ikan lebih dibanding dengan nelayan yang hendak menangkapnya. “Ikan di Jember under fishing justru tenaga terbatas,” tambahnya.

Penyebabnya, kata dia, selain kemampuan SDM yang rendah, juga kemampuan ekonomi yang terbatas. Begitu juga dengan sarana-prasarana yang tidak memadai. Nelayan tidak memiliki teknologi yang mumpuni. “Ditambah tidak ada kebijakan pemerintah daerah tentang kelautan,” ujarnya. 

Potensi maritim tidak hanya ikan, tetapi juga wisata bahari, minyak bumi dan gas, energi laut, angin, sumber air bersih, garam, dan lainnya. Hanya saja, pengelolaan laut hanya berfokus pada ikan. “Sumber air laut lebih bergizi dibanding sumber air lain,” tambahnya.

Pengelolaan sumber air laut tidak bisa dilakukan karena tidak memiliki alat teknologi yang mendukung ke sana. “Memang membutuhkan dana investasi besar, tapi hasilnya juga besar,” ujarnya.

Begitu juga dengan pengelolaan garam yang masih bergantung pada alam. Skalanya masih digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak heran, pemerintah melakukan impor garam untuk memenuhi kebutuhan industri karena kalau hanya mengandalkan garam dari petani tidak cukup. “Untuk itu, kalau tidak ingin impor, perlu membuat pabrik besar yang mampu menyuplai industri,” jelasnya. 

Dia menilai, kebijakan maritim mulai nampak baik pada masa kepemimpinan Jokowi-JK. Kepedulian untuk mengembangkan sektor maritim terus dilakukan. Seharusnya, hal itu mampu ditangkap oleh pemerintah daerah. “Pemerintah daerah dan nelayan belum berpikir ke depan,” ujarnya. 

Pengembangan terpadu yang paling nyata dilakukan oleh pemerintah daerah adalah wisata bahari. Semua sektor perlu terlibat agar fokus menanganinya. Antar pelaku, antar ruang antar sektor. “Bangun pelabuhan, tawarannya di Gumukmas, karena lahan sangat luas,” tuturnya. 

20 tahun lagi, Kusnadi memprediksi, pengembangan ekonomi bakal terjadi di wilayah maritim. Negara lain seperti China sudah mulai bergerak ke sana. “Indonesia terus bergerak ke sana,” pungkasnya. 

Sementara itu M. Sholeh, Koordinator LSM Mina Bahari yang konsen terhadap potensi kemaritiman dan kelautan menilai, selama ini penanganan pasca penangkapan ikan di Jember masih sangat minim. Sehingga ikan pun hanya untuk kebutuhan lokal. Padahal, jika ada pengolahan pasca penangkapan ikan di tempat pelelangan ikan dioptimalkan, maka dipastikan jika ikan Jember akan memiliki kualitas nasional bahkan impor.

 “Potensi segi pengolahan ikan di Jember yang minim,” tegas Sholeh. Potensi itu diantaranya banyaknya ikan tangkapan yang dihasilkan oleh nelayan di Puger.

Tetapi, selama ini ikan-ikan ini hanya dijual begitu saja di TPI Puger tanpa ada penanganan lainnya. “Jika pun ada itu hanya sekala home insdustry nelayan sekitar,” jelasnya. Misalnya untuk pemanfaatan menjadi petis yang masih minim dan kecil. Begitu juga dengan pengasapan dan ikan asin yang biasanya memanfaatkan sisa ikan dari TPI.

Padahal, ini menjadi potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan. “Paling tidak seharusnya ada pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan. Bisa pabrik, pengalengan, dimanfaatkan untuk hal lain seperti pakan ternak mungkin,” jelasnya. Tentunya ikan-ikan dari pantai selatan ini akan memiliki nilai tambah dan sangat bisa membantu ekonomi nelayan di Jember.

“Jangankan pabrik, cold storage skala besar untuk menyimpan ikan saja minim,” jelasnya. Padahal, cold storage ini sangat baik untuk menjaga ikan hasil tangkapan sehingga memiliki umur yang panjang. Bahkan, bisa digunakan menjaga pasokan ikan di masyarakat. Pasalnya, selama ini yang terjadi jika sedang musim paceklik ikan, maka TPI akan sepi. Bahkan, nelayan harus membeli dari luar daerah, khususnya Probolinggo untuk memenuhi kebutuhan lokal Jember.

Bukan hanya itu, pihaknya melihat potensi ikan tuna yang sebenarnya cukup bagus. “Kalau dikelola dengan baik, seharusnya bisa diekspor,” jelasnya. Apalagi, kini Jember memiliki infrastruktur memadai yakni bandara, sehingga bisa menjadi terminal ikan yang hendak diekspor. Namun, karena tidak dimanfaatkan, hanya bisa menjadi tingkat lokal saja.

Hal inilah yang diakuinya perlu adanya pembinaan dan daya ungkit dari pemerintah, utamanya kepada nelayan. Termasuk dirinya mendorong adanya zonasi untuk nelayan untuk memisahkan nelayan kecil dan perahu besar. Sehingga potensi laut selatan ini bisa dieksplorasi lebih baik lagi dari sekarang.

Bukan hanya itu, pihaknya juga melihat potensi lain selain laut yakni perikanan darat. Potensinya sangat bagus untuk dikembangkan seiring dengan pembangunan Jalur Lintas Selatan. “Wilayah Jember memiliki potensi bagus untuk pengelolaan tambak udang dan ikan darat,” jelasnya. Jika memang bisa dimanfaatkan secara maksimal akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat di pesisir selatan.

“Bagaimana pun ini juga menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dari penduduk sekitarnya,” jelasnya. Bukan hanya tambak, pihaknya juga melihat pesisir juga memiliki potensi pertanian yang cukup baik untuk terus dikembangkan. 

“Misalnya di daerah Muneng, Gumukmas ada lahan pertanian di pesisir yang ditanami semangka, jeruk, dan buah naga. Hasilnya juga cukup bagus,” jelasnya. Potensi inilah yang membutuhkan sentuhan dari pemerintah daerah, sehingga membuat wilayah pesisir selatan ini diharapkan semakin maju ke depannya.

“Ini juga bisa menjadi bagian dari strategi untuk penolakan rencana eksploitasi tambang pasir besi,” tegas pria yang sejak awal menolak adanya tambang di Jember. Dirinya melihat, meskipun bukan untuk tambang, daerah selatan memiliki potensi ekonomi lain yang bisa dikembangkan namun juga menjadi ekonomi masyarakat.

“Tidak harus tambang. Karena tambang jelas akan merusak lingkungan,” pungkasnya. 

Bergantung Kiriman Ikan Daerah Lain 

Begitulah nasib para nelayan kita. Serba tidak menentu. Seperti fakta yang bisa kita lihat di tempat pelelangan ikan (TPI) di Puger belakangan ini. TPI itu terlihat sepi. Lelang ikan tidak seramai biasanya. Hal itu terjadi karena tidak banyak ikan yang didapat nelayan. Terkadang, para pengusaha ikan di sana berani mengambil ikan dari daerah lain.

Aksi ambil ikan dari daerah lain itu memang cukup sering terjadi. Terlebih, ketika cuaca sudah tidak mendukung seperti saat ini. Hanya ikan Lemuru saja yang bisa ditangkap para nelayan. Sedangkan ikan jenis lain kosong.

Nur Chotib, nelayan di TPI Puger mengatakan, saat ini ikan masih sepi. Angin laut masih berembus sangat kencang, sehingga ombak pantai selatan meninggi. Nelayan pun masih waswas melaut.

Kendati demikian, dia dan beberapa nelayan lainnya nekat mencari ikan. Meski hasil tangkapannya tidak seberapa, paling tidak ada pemasukan untuk dapurnya agar tetap ngebul. “Kali ini memang sepi,” katanya.

Kondisi seperti ini diperkirakan akan berakhir pada Maret mendatang. Hal itu karena akhir-akhir ini cuaca sudah mulai bersahabat. “Mungkin Maret ikan sudah banyak lagi. Kalau sekarang sepi,” tuturnya.

Dalam kondisi seperti ini, stok ikan menjadi sangat turun. Sehingga, tak heran jika ada beberapa pengepul ikan dari daerah lain datang ke Puger. Hal itu dinilai wajar, lantaran daerah lain memiliki potensi ikan yang lebih stabil dari pada Jember.

Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan ikan di Jember, harus mendatangkan ikan dari daerah lain. Seperti Probolinggo, Situbondo, bahkan dari Banyuwangi. “Kalau sepi begini biasanya ambil dari Banyuwangi dan daerah utara,” tuturnya.

Ke depan dia berharap ada solusi dari pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor perikanan di Jember. Sehingga, pada musim seperti saat ini nelayan tetap bisa mencari ikan dengan jumlah maksimal.

Dengan demikian, kebutuhan ikan di Jember akan terpenuhi dari hasil tangkap nelayan Jember sendiri. “Kalau kami berharap tangkapan ikan semakin banyak, sehingga tidak perlu mendatangkan ikan dari luar daerah,” harapnya.

Hal itu dibenarkan Andi Prasetyo G, Kasi Produksi Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Jember. Dikatakan bahwa kondisi cuaca saat ini memang tidak bersahabat dengan para nelayan. Sehingga, hasil tangkap para nelayan sangat berkurang daripada hari biasanya.

Dia menuturkan, sebenarnya ada beberapa opsi agar cuaca tidak mempengaruhi hasil tangkap para nelayan. Salah satunya dengan memasang rumpon. Alat itu berfungsi sebagai penarik gerombolan ikan ke lokasi yang terpasang rumpon.

Namun, realisasi untuk alat tersebut cenderung cukup sulit. Selain harus menggunakan biaya yang mahal, kondisi gelombang pantai Selatan diperkirakan dapat merusak rumpon dengan mudah. “Jadi butuh perawatan ekstra,” katanya.

Sementara ini, pasokan ikan di Jember masih mengandalkan daerah lain. Seperti dari Probolinggo dan Situbondo. Tak jarang pula memasok ikan dari Banyuwangi. “Kalau seperti saat ini memang pasok dari luar daerah,” tuturnya.

Ke depan dia berharap ada langkah yang bisa diambil oleh pemerintah untuk mendukung perkembangan ikan di Jember. Terlebih untuk para nelayan kecil yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari laut.

Tentunya, langkah itu dapat didukung sepenuhnya oleh para nelayan di Puger. Sehingga, kebutuhan ikan di Jember dapat ditutupi dari hasil tangkap para nelayan Jember. “Semoga nantinya inovasi-inovasi kami bisa diterima dan direalisasikan,” tutupnya. 

(jr/gus/mar/ram/ras/das/JPR)

Source link