Ditemui Jawa Pos Radar Kudus di rumahnya di RT 3, RW 8, Desa Ngelobener, Kecamatan Jepon, kemarin. Aminah terlihat sibuk mengurus anak-anaknya. Dia memiliki delapan anak. Masing – masing, Ikhsan Wahyudi, 23; Nur Isnaini, 21; Agus Ilham Putra, 18.

Kemudian, Maryam Lestari, 15; Elna Martini, 11; Hidayah Firdaus, 6; Aris Setiawan, 4,5; dan Anindita Putri Zahra, 17 bulan. Delapan anak itu, dia rawat seorang diri. Sementara suaminya sudah meninggal. ”Setelah suami meninggal. Saya jadi sakit saraf di otak kadang kepala saja tiba-tiba pusing,” ujarnya.

(FARUQ HIDAYAT/RADAR KUDUS)

Dia memperkirakan, penyakitnya itu karena kerap bersedih memikirkan suaminya. Dengan kondisi seperti itu, dia masih harus merawat anak-anaknya. Selain itu, beberapa anaknya juga sakit. Anak pertamanya Ikhsan Wahyudi, 23, menderita psikotik atau gangguan jiwa dan buta sejak lahir.

Bahkan, mulai tahun 2006, anak pertamanya itu diisolasi di kamar belakang rumah berukuran sembilan meter persegi. Sedangkan untuk keperluan tidur hanya disediakan sejumlah potongan bambu sebagai alas. Kemudian, Mariyam Lestari, 15, mengalami tunagrahita atau keterbelakangan mental.

Ironisnya, mereka tinggal di rumah yang lapuk. Dinding rumah dari kayu, lantai berupa tanah dan atapnya terlihat sudah rapuh. ”Saya tidak memiliki biaya untuk renovasi rumah. Untuk kehidupan sehari hari saja serba kekurangan,” katanya.

Meski begitu, dia memiliki sawah di belakang rumahnya. Sebagian disewakan. Sebagian lagi, digarap orang lain. Tapi hasil panen sawah yang digarap orang dibagi menjadi dua. Jadi tiap panen dia memperoleh sebagian hasil panen dari sawahnya yang digarap orang.”Biasanyadapat bagianlima karung,” ungkapnya.

Namun, jatahnya itu dia selepkan jadikan beras untuk keperluan makan sehari-hari. Karena tidak bekarja, untuk membeli keperluan lain. Seperti makan dan saku buat anaknya mendapat bantuan dari tetangganya yang merasa iba.

Untuk biaya sekolah, sekolah semua anaknya gratis. Selain itu, dia juga memiliki kartu peserta keluarga harapan. Sehingga setiap tiga bulan sekali dia memperoleh uang Rp 500 ribu. ”Tapi uang itu tidak boleh digunakan untuk kebutuhan. Hanya boleh digunakan untuk membeli peralatan sekolah itupun harus ada kwitansinya,” imbuhnya.

Dia berharap, bisa memperoleh bantuan bedah rumah. Sebab, tempat tinggalnya sudah memprihatinkan. ”Saya tidak memiliki biaya untuk merenovasi rumah. Semuanya sudah lapuk saya takut kalau roboh. Kalau hujan juga bocor. Semua anak-anak saya bisa menjadi orang sukses,” katanya.

(ks/ruq/ali/top/JPR)